Kenapa melela?

Waktu itu aku berumur dua puluh satu tahun ketika memposting artikel sederhana itu. Tanpa membacanya untuk yang kedua kalinya, kata-kata yang penuh emosi itu aku kirimkan ke teman-teman terdekatku dalam bentuk tautan yang langsung menghantarkan mereka ke blog pribadiku. Aku mengharuskan mereka untuk membacanya karena itu akan menjadi penentu apakah kami benar-benar teman atau hanya sekedar manusia yang saling membutuhkan satu sama lainnya, yang rasa hormatnya langsung luntur ketika salah-satunya membuka topeng dan menunjukkan wajah aslinya.

Satu persatu, balasan yang aku tunggu-tunggu pun datang mengharmpiriku dalam bentuk SMS yang diselipi emoji-emoji lucu. Mereka telah membacanya. Seperti yang aku harapkan, kami ternyata benar-benar berteman karena mereka menerima aku, siapa aku yang sebenarnya, tanpa sedikitpun mencoba untuk menilai (menghakimi) seolah ada yang salah dengan semua itu. Aku berbeda. Tak seperti mereka. Tetapi tak ada masalah bagi mereka.

Sekali lagi, aku berbeda. Aku tak seperti mereka. Tapi aku tak sepenuhnya berbeda. Karena dalam beberapa hal ada kesamaan di antara kami. Aku mendengarkan lagu yang mereka sukai, aku menonton film yang dibintangi oleh aktor-aktor yang mereka idamkan, aku membaca buku yang pernah mereka tamati. Aku manusia, layaknya mereka. Tapi bukan di sini fokus pembahasannya. Ada hal yang lebih dalam dari itu.

Aku telah melela. Aku telah menunjukkan wajah asliku kepada mereka. Tak ada lagi yang harus aku sembunyikan dan tutupi dengan kebohongan. Tidak tentang hal yang seharusnya wajar untuk diketahui oleh yang lainnya. Aku bebas. Tapi itu bukanlah akhir dari hidup dan perjuanganku. Sebaliknya, itu menjadi awal bagi diriku yang baru. Namun setidaknya, semuanya menjadi lebih mudah.

Lalu sebuah pertanyaan muncul dari temanku. “Kenapa?” tanyanya dengan polos. Bukan kenapa tentang siapa aku dan orientasi seksualku, tetapi kenapa aku melela. Kenapa aku memberitahukan hal itu kepada teman-teman dekatku. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana tetapi telah membuat aku berpikir sangat panjang tentang itu. Ya, kenapa? Tanyaku pada diriku sendiri. (Tentu saja saat itu aku langsung menjawab pertanyaan temanku dengan kalimat sesingkat dan sejelas mungkin.)

Kenapa melela?

Sebelum menanyakan itu, sebaiknya ada pertanyaan yang harus didahulukan. Karena dalam bahasa inggris istilah itu dikenal dengan coming out of the closet, maka pertanyaannya adalah; “siapa saja yang berada di dalam closet (harfiah: lemari baju/konotasi: menyembunyikan diri)?” jawabannya adalah; orang-orang yang memiliki perbedaan mencolok dibandingkan mayoritas. Mereka yang tak setuju dengan suatu sikap yang awalnya tak mereka suarakan atau orang-orang yang tak bisa menyamakan dirinya dengan masyarakat. Namun dalam hal ini, fokusnya adalah orientasi seksual (sesuatu yang bukan pilihan tetapi masih sulit diterima oleh mayoritas). Lalu, pertanyaan berikutnya adalah: “Kenapa melela?”

Ada banyak alasan yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Namun dari yang aku perhatikan, semua yang melela memiliki satu alasan yang sama; letih akan berbohong tentang diri sendiri.

Melela itu penting. Tidak hanya bagi yang melakukannya, tetapi bagi siapa saja yang menjadi objek tempat orang itu melela; Teman-teman, orangtua, adik-kakak, siapa saja. Karena itu adalah tindakan yang telah melalui proses panjang yang tak bisa dengan mudah dijelaskan. Beberapa ada yang mengalami depresi berat, bahkan ada yang sampai mencoba untuk bunuh diri. Semua itu terjadi karena adanya tabu yang membuat fakta menjadi kabur di mata mayoritas. Dengan melelanya mereka, maka kebenaran terungkap dan proses menuju ke penerimaan pun terjadi (walaupun membutuhkan waktu).

Saat aku mengatakan yang sebenarnya, teman-temanku terkejut karena tak mengira mereka memiliki teman yang orientasi seksualnya berbeda. Sesuatu yang awalnya mereka anggap ada tetapi cenderung mustahil karena terlalu jauh dan hanya ada di media-media, kini mulai menjadi nyata karena aku ada di kehidupan mereka. Mereka menerimaku, seperti yang telah mereka lakukan sebelum tahu siapa aku, bukan karena orientasi sekualku. Kenyataannya, selain rasa penasaran, mereka sama sekali tak mempermasalahkannya. Sikap mereka yang tak berubah ternyata karena mereka telah mengenal aku, lebih dari orientasi seksualku, dan cara aku bergaul dengan mereka. Penerimaan mereka tak hanya berguna bagiku, tetapi juga mengubah cara pandang mereka tentang perbedaan yang memang benar-benar ada.

Akhir-akhir ini, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal yang sudah melela. Mulai dari aktor, penyanyi, hingga atlet. Ada yang tertangkap media besar dan menjadi pokok berita, ada juga yang hanya sekedar berita selingan. Perayaan atas pemelelaan itu pun tak ragu-ragu diperlihatkan dalam bentuk dukungan atau bahkan sampai parade. Penerimaan mulai semakin tampak sehingga yang berbeda mulai bisa menerima diri mereka sendiri. Namun disela-sela maraknya fenomena itu, selalu saja ada pendapat negatif yang mengiringi kejadian tersebut. Sikap ketidakpedulian dan pengabaian menjadi masalah besar. Saat ada salah satu tokoh terkenal melela, mereka akan berkata bahwa itu tak perlu dilakukan karena tak ada yang peduli dengan siapa mereka berhubungan seksual. Nyatanya, pendapat itu sangatlah dangkal dan menimbulkan kesalahpahaman yang membahayakan.

Melala bukanlah untuk mengumumkan kepada dunia tentang hubungan seksual seseorang. Lebih dari itu, melala adalah sebagai batu pijakan bagi sebagain yang tak beruntung untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik lagi. Mereka melala karena mereka ingin seperti yang lainnya, menggenggam tangan orang yang mereka cintai, memamerkan hubungan cinta mereka kepada dunia, bahkan sampai menikahi pasangan mereka. Mereka melala karena itu adalah bentuk protes tentang kenapa yang lainnya boleh melakukan hal itu namun mereka tidak. Melala adalah tentang melanjutkan hidup dan menuju ke level yang lebih tinggi. Orientasi seksual bukan sekedar tentang apa yang dilakukan di atas ranjang bersama pasangan, tetapi juga mengenai teman hdup yang akan dihabiskan hingga akhir hayat. Menganggap melala itu tak penting adalah kesalahan besar karena masih banyak orang-orang yang tak beruntung, yang merasa sendiri dan ditekan oleh kebudayaan dan hukum-hukum yang tak cocok dengannya, yang membutuhkan teman yang mengerti dirinya. Mereka harus tahu bahwa tak sedikit orang yang seperti dirinya.

Tak ada cara tertentu, benar-salah, tentang melela. Tetapi selalu ada harapan yang sama di setiap tindakan tersebut: penerimaan.

Kenyataannya, masih banyak di luar sana orang-orang yang menolak tentang orientasi seksual seseorang. Bahkan lebih parah lagi, lembaga yang harusnya menjaga setiap manusia tanpa pandang bulu juga tak sembunyi-sembunyi untuk ikut mendeskriminasi yang mengakibatkan deskriminasi menjadi semakin besar dan dianggap sebagai tindakan yang benar. Inilah yang membuat kata in the closet menjadi topeng yang paling aman bagi sebagian yang orientasi seksualnya minoritas. Karena apa yang terjadi di sekeliling mereka, mereka menjadi terancam. Bayangkan, bahkan untuk menjadi diri sendiri saja, mereka takut. Bukan karena pengecut, tetapi karena adanya peraturan tak tertulis yang membuat kehidupan mereka menjadi lebih berat.

Inilah kenapa Melela itu penting. Karena semakin banyak yang mengungkapkan tentang kebenaran dirinya, maka fenomena itu menjadi semakin wajar dan orang-orang jadi sadar, seperti teman-temanku sadar akan diriku, bahwa aku, mereka, kami, bukan hanya tentang orientasi seksual kami. Kami seperti kalian, yang butuh makan, tidur, dan buang air. Kami punya mimpi dan ambisi, menyukai satu hal dan tak menyukai hal lainnya.

Seperti pisang dan jeruk, sebagian memilih untuk memakan jeruk, sebagian ingin pisang, sebagian ada yang ingin dua-duanya, ada juga yang tak mau dua-duanya. Kalau kita bisa mentoleransi tentang pilihan orang lain, bagaimana mungkin kita tak bisa mentoleransi sesuatu yang tak dipilih oleh orang lain? Yang selalu ada dan merupakan bagian dari dirinya, seperti jantung atau paru-paru, yang tak bisa dipisahkan dari dirinya.

Bukankah kehidupan yang damai adalah dambaan setiap orang?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s