Di Bawah Pohon Kemiri

Ada pohon kemiri yang tumbuh lebat, tinggi dan besar di pinggir danau, di ujung ladang milik nenekku. Ranting-rantingnya tak pernah sepi oleh buah dan bentuknya yang seperti payung membuatku menyamakannya dengan pohon beringin yang ada pada lambang burung garuda. Pohon itu tak hanya menjadi tempat berteduh yang sempurna, tetapi juga mampu menolong hidup orang-orang di sekitarnya. Selalu saja ada orang—entah itu nenekku atau salah satu dari keluargaku, atau pun orang asing—yang berlama-lama di bawah pohonnya. Kepala mereka tertunduk dan kaki mereka liar, menyepak-nyepakkan dedaunan kering, rerumputan atau bebatuan untuk mencari buah kemiri yang terjatuh karena telah matang. Ya, kemiri adalah bisnis yang cukup menjanjikan di sana. Buah-buah itu bisa dikumpulkan, dijemur dan lalu dijual perkilo kepada saudagar kemiri terdekat.

Hari itu adalah minggu. Tak ada sekolah dan kartun-kartun pagi telah selesai ditonton hingga sore datang menjelang. Bingung akan kegiatan yang baru, aku dan sepupu yang dua tahun lebih tua dariku pun memilih untuk mendatangi nenek yang tengah sibuk mencabuti rumput di sekitar pohon durian di ladangnya. Dengan penjagaannya, maka kami bisa mencari buah kemiri dengan aman walaupun kami tak membutuhkannya. Sayangnya, hari itu danau sedang pasang dan tanah tempat buah-buah kemiri itu terjatuh jadi tertutup air. Alih-alih mengeluh, kami pun memilih untuk mengambil tangguk dan mencoba peruntungan untuk berurusan dengan binatang air.

Ikan Timah, begitulah kami menyebutnya. Mereka selalu ada di pinggir danau, terlihat sangat jinak namun segera menghilang ketika mencoba menangkapnya dengan tangan. Ikan itu unik karena walaupun tubuhnya berwarna pucat, sirip-siripnya yang berwarna-warni, biasanaya merah dan ungu, terlihat indah melambai-lambai seiring mereka bergerak. Mereka dinamakan Timah tak lain karena sebuah titik berwarna perak berada di setiap kepala mereka, menonjol ketika mereka menuju ke permukaan. Dengan digunakannya tangguk, kami pun dengan sangat mudah menangkap puluhan ekor ikan itu.

Tangkapan itu kami kumpulkan di dalam botol kecil yang kami pungut dari sampah yang bandel tergenang di danau, dengan air yang cukup yang membuat mereka bisa tetap hidup. Setelah botol itu hampir penuh, kami pun kembali melepaskan mereka ke danau. Kami tak berniat membawa ikan-ikan itu pulang, apalagi untuk dijadikan makanan, karena kami tak pernah memakan ikan-ikan seperti itu. Ketika kami kembali menggunakan tangguk, sepupuku pun mengambil selangkah lebih jauh, memasuki danau yang sedikit lebih dalam hingga kami masuk ke area rumput yang seutuhnya terendam air, yang tingginya tak lebih dari selutut kami. Tangguk itu pun kami turunkan dan kami gesek ke permukaan danau hingga rumput-rumput itu terpaksa mengalah dan tertindih untuk sesaat. Ketika tangguk itu kami angkat, betapa kagetnya kami ketika menemukan ada lebih dari segenggam udang yang terperangkap di sana. Meresa keberuntungan baru saja mendatangi kami, kami pun langsung menyimpan udang-udang itu ke dalam botol, kali ini dengan niat untuk menjadikannya makanan.

Setelah sekali dua kali ayun, botol kami pun hampir penuh, memaksa kami harus mencari tempat yang lainnya. Saat itulah seorang nelayan dengan perahu kecilnya mendatangi kami. Ia memanggil nama kami, tapi kami tak tahu dia siapa karena mukanya tertutup oleh kupluk yang sepertinya ia gunakan untuk berlayar malam. Ia mengaku bahwa ia melihat kami dari jauh, terlihat sangat antusias dengan celana kami yang tergulung hingga ke betis tapi tak peduli dengan lengan panjang baju kami yang telah basah karena kegiatan menangguk. Memangnya apa yang kalian cari, tanyanya. Aku ingat betul bagaimana aku menjawabnya. Seolah baru saja menemukan tambang emas, aku lalu mengangkat botol yang dipenuhi oleh udang itu dan menjelaskan kepadanya dengan sangat singkat.

Kegiranganku pun semakin bertambah ketika aku tahu ia juga terlihat antusias. Ia pun menanyai apakah kami menangkapnya hanya di bawah pohon kemiri ini. Kami mengangguk serempak. Tertarik dengan tangkapan kami yang luar biasa, ia pun menawarkan masing-masing kami seribu rupiah untuk sebotol udang itu dan meminjamkannya tangguk itu. Seribu adalah uang yang sangat besar bagi anak berumur tujuh tahun. Dalam pikiranku, yang aku bayangkan hanyalah dua botol limun yang segar, dinikmati dengan hasil keringatku sendiri. Tanpa pikir panjang ataupun membuat kesepakatan, aku dan sepupuku pun kompak mengangguk. Dan selembar uang bergambar Kapitan Pattimura itu pun beralih ke masing-masing tangan kami.

Senang karena telah berhasil mendapatkan uang dari usaha kerja sendiri, kami pun langsung berlari mendekati nenek yang kala itu tengah berjongkok dengan goloknya yang ia ayun untuk memangkas rumput-rumput liar. Kami memamerkan uang kami dan menceritakan semuanya tanpa sedikit pun ada kebohongan. Alih-alih memberi semangat, Nenek malah menunjukkan wajah cemberut dan penuh ejekan. “Bodoh,” ujarnya. “Udangnya banyak tapi dijual cuma dua ribu.”

Waktu itu, fakta itu membuatku kecewa. Tetapi aku langsung melupakannya ketika ada durian muda yang runtuh. Perhatian kami teralihkan dan kegembiraan selembar uang seribu kini berganti dengan perburuan dan perebutan durian yang dagingnya masih keras dengan aroma yang tak setajam biasanya.

Beberapa tahun kemudian, yaitu hari ini, pengalaman itu kembali datang ke pikiranku. Kekecewaan itu kini malah ditujukan kepada kesadaran atas hidup yang kejam. Ya, hidup memang kejam. Lihat dia, nelayan yang entah siapa itu. Demi keuntungan yang berlipat ganda, ia menipu kami yang saat itu masih terlalu polos. Kalau dipikir-pikir, ia bisa saja mendapat keuntungan lebih dari dua puluh ribu oleh tangkapan mudahnya itu. Udang-udang itu bisa saja membuat istrinya bersyukur atas kerja keras suaminya. Tapi, siapa yang tahu di balik tangkapannya itu, dua anak kecil yang masih belum terlalu paham tentang liciknya persaingan hidup telah dicurangi?

Kenangan ini sebenarnya terasa lucu, alih-alih menyakitkan. Aku bisa saja mengatakan bahwa: lihat mereka! dua anak itu bahagia hanya dengan dua ribu rupiah. Kebahagiaan itu sederhana, bukan? Tapi, bagaimana dengan keuntungan yang didapatkan berlebihan oleh si nelayan itu? Apakah adil? Tentu saja tidak. Namun tanpa berusaha menjadi munafik, aku juga sadar bahwa itulah yang namanya hukum alam. Yang kuat memangsa yang lemah. Orang-orang menganggap itu hanya berlaku di rimba dan telah punah di masyarakat. Tapi itu bohong. Cerita ini adalah buktinya. Atau yang lebih nyata, lihatlah bagaimana orang kaya yang semakin kaya bisa mendapatkan keuntungannya. Tentu saja dari orang-orang miskin yang lugu (bodoh) yang mengira telah diuntungkan malah ternyata dicurangi.

Adilkah? Tentu saja tidak. Hidup tak pernah adil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s