Tunas Bangsa, pohon bangsa masa depan yang lebih baik?

Such a horrible title you got there, kata salah seorang pembaca. Yopp, jawab saya dengan setengah bangga, seperempat sedih, seperdelapan bingung dan sisanya berbagai jenis perasaan tak jelas lainnya. Apa yang ada di pikiran saya ketika memilih untuk menuliskan judul seperti ini? Banyak, tentu saja. Tapi yang pasti, setidaknya secara tidak langsung (namun karena saya berucap seperti ini, berarti secara tidak langsung, saya sudah mengakuinya secara langsung dan… ∞) saya menunjukkan bahwa sebagian besar dari tulisan saya malah terinspirasi dari judul. Tidak sepenuhnya benar, tentu saja. Namun kenapa?

Kata Tunas Bangsa mengingatkan saya pada lambang tunas kelapa kebanggaan anak-anak pramuka. Bentuknya unik mirip kecebong (kecebong jantan ereksi yang hendak tenggelam, tepatnya—no offence. Relax, it’s just my weird perverted imagination). Tunas bangsa ini, yang berarti adalah anak-anak, selalu dikatakan akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang akan membawa perubahan kepada negara tercinta ini, bahkan dunia. Rasionalnya, tentu saja ini benar, mengingat semua orang pasti akan tumbuh besar dan (karena keterbatasan teknologi yang mampu menghindari mortalitas) yang tua-tua dan berpengalaman akan mati. Tapi, tidak semuanya juga, tentu saja. Faktanya, hanya sebagian kecil dari jumlah manusia yang akan benar-benar menjadi pemimpin (terlepas kepemimpinannya baik atau buruk) karena memang pemimpin biasanya adalah satu (sedikit) yang mengatur banyak orang. Karena itu, maka memang ada baiknya bagi yang sudah dewasa benar-benar menganggap atau memperlakukan hingga mempersiapkan yang muda-muda agar bisa menjadi pemimpin yang benar-benar kompeten. Itu juga kenapa ada hal-hal seperti pramuka di sekolah-sekolah, mempersipakan manusia yang paling baik di antara yang paling baik. Tapi sayangnya, walaupun hampir semua orang menyadari hal itu, tidak banyak yang benar-benar mencoba untuk memperlakukan anak-anak seperti apa yang sepantasnya mereka dapatkan. Bagi beberapa orang dewasa, anak-anak hanyalah manusia-manusia yang pemikirannya belum terbentuk dan tak bisa mengerti obrolan dewasa.

Ini adalah sesuatu yang salah, tentu saja. Tanpa mereka sadari, orang-orang dewasa itu lupa bahwa mereka dulunya juga anak kecil (mungkin karena waktu untuk menjadi anak-anak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan menjadi dewasa (yang justru membuat masa anak-anak menjadi istimewa) dan mereka telah tenggelam di dunia kedewasaan yang membuat mereka seperti kacang lupa kulitnya) yang pastinya mengerti sedikit demi sedikit apa yang ada di sekitarnya. Memperlakukan mereka seolah mereka adalah orang-orang bodoh tidaklah baik. Itu ditakutkan akan memandu anak-anak menuju ke jalan yang tidak benar.

Anak-anak adalah penghuni baru di dunia ini. Layaknya seorang turis, ada banyak pertanyaan yang akan mereka ajukan mengenai apa yang ada di sekelilingnya. Tidak jarang, karena ketidaktahuan mereka, pertanyaan-pertanyaan tersebut malah membuat orang-orang dewasa merasa tak nyaman. Lalu tiba-tiba saja mereka ditegur tanpa penjelasan dan dilarang untuk mengajukan pertanyaan yang sama. Kata mereka itu adalah tabu.

Tabu itu adalah sesuatu yang dianggap suci (tidak boleh disentuh, diucapkan dsb), pantangan dan larangan.

Manusia, binatang yang berinteligensi tinggi, menciptakan budaya yang kemudian membuat mereka menjadi berbeda dari bintangan lainnya. Budaya itu dipegang kuat hingga menciptakan dikotomi antara baik dan buruk. Sesuatu yang baik akan diaplikasikan dan sesutau yang buruk akan dijauhkan, atau bahkan dilarang untuk diucapkan atau dibahas, atau hanya boleh dibahas oleh orang-orang yang punya tingkat kedudukan/usia tertentu saja. Ini tidak salah, malah perlu diapresiasi karena tujuan utamanya adalah menciptakan kehidupan yang layak untuk dihidupi. Sayangnya, rasa penasaran itu ada bukan hanya untuk mengetahui hal-hal yang baik saja, melainkan sesuatu yang buruk juga. Anak-anak akan bertanya-tanya kenapa itu dilarang dan kenapa yang lainnya tidak. Tanpa penjelasan yang jelas, setidaknya bisa diterima untuk kapasitas logika mereka, maka mereka akan terjerumus ke dalam ketidaktahuan yang menyesatkan yang bisa saja akan merugikan kehidupan masa depan mereka.

Bagi sebagian anak, setelah yang dewasa menolak untuk menjawab pertanyaan mereka biasanya mereka akan diam. Namun bagi beberapa, mereka malah mencari tahu dengan cara yang lain. Mereka akan mencoba menanyainya kepada orang-orang yang belum kompeten namun mampu mengobati dahaga penasaran mereka. Orang-orang yang tidak kompeten itu bisa saja menawarkan jawaban yang jauh dari kata benar, atau jawaban yang benar tapi malah disampaikan dengan tidak benar atau disalahgunakan. Hal-hal itu pastinya menimbulkan rasa penasaran baru yang seharusnya bisa dihindari kalau-kalau orang-orang yang bisa menjawab itu tak mencoba mendiamkan mereka. Dan tanpa mereka (orang-orang dewasa itu) ketahui, anak-anak malah sudah tahu tentang banyak hal.

Yang sering dilupakan oleh orang dewasa adalah, sesuatu yang dilarang itu terkadang mampu memberi sensasi candu. Tak terkecuali tentang informasi. Karena dipandang sebelah mata, anak-anak tak jarang berlaku seperti para kriminalis yang takut apa yang mereka lakukan diketahui oleh orang-orang dewasa, walaupun hukumannya hanya berupa teguran. Informasi apa saja yang diperlakukan seolah itu adalah obat-obatan terlarang oleh anak-anak? Banyak. Namun biasanya mereka akan berbicara tentang hal-hal seksual.

Kalau saya mundur ke beberapa tahun sebelumnya, menunjukkan kehidupan anak-anak sebenarnya (yang pernah saya alami) dalam perspektif orang dewasa, saya yakin beberapa akan kaget, namun tak sedikit juga akan memahami dan memaklumi bahwa kejadian itu terjadi kepada mereka juga. Saya yakin, saat semua itu terjadi, yang dewasa tak sadar akan itu sama sekali. Berikut beberapa contoh hal tabu yang dikira para dewasa tak dimengerti oleh anak-anak :

Waktu saya duduk di kelas dua SD, yang berarti berusia sekitar tujuh atau delapan tahun, salah satu teman dekat saya (yang usianya berbeda beberapa bulan) mengaku baru saja berhubungan seksual dengan seorang gadis yang berusia sama yang tinggal tak jauh di rumahnya. Itu terjadi bahkan tak jauh di sekitar rumah mereka.

Lalu salah seorang teman saya mengaku bahwa ia pernah melihat teman perempuan kami yang ada di kelas yang sama tengah melakukan hubungan seksual dengan tetangganya yang dua tahun lebih tua di kamar mandi sekolah.

Ada juga pengakuan sepupu saya tentang rasa penasarannya akan hubungan seksual yang membuat ia dan temannya (sesama lelaki) mencoba melakukan hal yang sama dengan mencoba mengganti vagina dengan pantat mereka dan melakukannya bergantian. Sepupuku mengakuinya secara tiba-tiba seolah ia baru saja menemukan harta karun dan saat mendengarkan itu, satu-satunya yang ada dipikiran saya adalah rasa jijik. Rasa jijik yang tak sama dengan yang diraksan oleh anti-homoseksual tetapi karena mereka melakukannya dengan pantat yang jelas-jelas adalah tempat pembuangan (tapi sekarang, i regret the time when i said ew). Fakta lainnya, tak satu pun dari mereka adalah homoseksual (setidaknya, setahu saya) dan bahkan salah satunya sudah menikah dan punya anak.

Ada kasus di mana saya dan teman-teman saya (berumur 8 atau 9 tahun) pernah memergoki seorang bocah usia kurang dari enam tahun (pria) mencoba berhubungan seksual dengan perempuan yang satu tahun lebih muda darinya, namun tanpa melepaskan pakaian mereka.

Tidak jarang juga tersebar kasus itu (di antara anak-anak, tentu saja) tentang dua bocah yang dipaksa berhubungan seksual oleh temannya yang sedikit lebih tua.

Ketika saya berumur tujuh tahun, saya bingung ketika salah satu teman yang lebih tua dari saya mencuri segelas minyak goreng dari warung ibunya. Bahkan sebagai anak kecil, saya tahu itu konyol mengingat ia mengabaikan laci penuh uang yang tak terkunci. Lalu ia mengajak saya berkumpul bersama beberap teman lainnya yang sudah menunggu di rumah panggung yang tak dihuni, duduk di terasnya dengan semua celana dibiarkan melorot hingga ke lutut. Lalu mereka membagikan minyak goreng itu ke seluruh tangan dan mulai menggosok-gosok penis mereka. Aku pun mengikuti mereka. Namun mungkin karena belum ada hal-hal seksual yang merasuk ke tubuhku (i was so pure at that time), aku tak tahu kenapa mereka sangat menikmatinya. Kegelapan membatasiku untuk mengetahui apa yang terjadi di bawah sana. Yang jelas, aku ingat sekali penisku selayu sayur yang sudah dipetik dan tiga hari tak disentuh. “Nanti kalau sudah besar, kamu pasti tahu,” jelas sepupuku  saat itu yang berujar seperti sedang kepedasan.

Tidak hanya itu, ada hal-hal lain berupa non-seksual yang terjadi hanya karena ketidakpedulian orang dewasa atas rasa penasaran anaknya. Tiga temanku yang beberapa tahun lebih tua membuat heboh kampung ketika mereka pulang sambil menangis. Di masing-masing bahu mereka, telah tergambar berbagai jenis ukiran yang dibuat dengan getah yang dibuat dengan getah mangga kuini sebagai tato.

Saya juga ingat kali pertama bingung karena dimarahi oleh Kakek ketika dalam permainan Mika-mikado, saat ditanya tentang cita-cita oleh teman-temanku, sementara yang lainnya menjawab dokter atau guru, saya malah mengaku ingin menjadi tuhan. Belum pernah saya melihat kakek saya semurka itu. Alih-alih menjelaskan, ia malah melarang saya untuk menyebutkan kata itu lagi. Saat itu, saya bahkan tak mengerti apa yang salah dan apa yang ia larang. Itu membuat saya terus bertanya-tanya apa yang telah saya lakukan. Hasilnya, itu malah membawa saya membaca komik-komik neraka yang langsung membuat rasa takut untuk melakukan sesuatu yang baru.

Bahkan ketika yang dewasa berkumpul bersama, mereka bahkan lupa bahwa anak-anak mengerti apa yang mereka bicarakan. Itu jadi sangat memperburuk karena selain membuat anak-anak semakin penasaran, mereka juga akan merasa berjarak dan kikuk.

Saat Ibu saya berkumpul bersama teman-temannya, saya yang masih berusia sembilan tahun dikira tak mengerti ketika mereka membicarakan seorang transgender yang bekerja sebagai pekerja salon namun juga penjaja seks di malam harinya. Ia yang saat itu tengah berada di negeri jiran dikatakan selalu menerima klien yang mereka sebut memiliki penis sebesar terung. Dan mereka membahas itu semua seolah saya adalah makhluk tuli atau kucing yang tak mengerti sama sekali.

Anak-anak sebagai pemimpin masa depan, tentunya akan menawarkan hal-hal baru mengingat mereka berasal dari latar belakang yang berbeda dari orang-orang sebelumnya. Dengan pesatnya teknologi dan internet, banyak yang optimis bahwa kemajuan akan ada di genggaman tangan. Sederhananya, dewasa yang seperti itu pastinya hanya beranggapan bahwa semakin maju teknologi, maka pemikiran pun akan semakin baik. Tentu saja ini salah. Justru mengenai kaitan pendapat itu dengan cara mereka melakukan dan mengabaikan rasa penasaran anak-anak, itu sangat berbahaya. Berbeda dengan ketika masa kanak-kanak saya yang tak disentuh oleh internet, rasa penasaran anak-anak sekarang menjadi lebih berbahaya dengan kehadiran internet. Dua tahun yang lalu, saya harus menelan ludah dan bingung bukan main ketika saya membuka browser tablet sepupu saya yang masih berusia sembilan tahun dan menemukan berbagai jenis situs video dewasa  di sana.

Bayangkan, pemuda-pemuda yang tumbuh dari masa anak-anak yang penuh dengan hal-hal negatif akibat rasa penasaran, yang kemudian semakin ia bertambah besar semakin menyimpang pemahaman mereka tentang hal-hal yang ditabukan tersebut. Tentu saja itu akan menjadi mimpi buruk. Bayangkan, seorang pemimpin yang melakukan pelecehan seksual hanya karena masalah tabu dan hush dari orang tuanya ketika ia bertanya (Oops!… I don’t know about the tabu and hushes thingy, but about the first thing, i think Americans know better). Dan bayangkan pemimpin yang sama malah mendeklarasikan sebuah bulan menjadi bulan anti pelecehan seksual nasional. Semoga saja itu takkan pernah terjadi (Oops! Again. Trump just did it. Whaaat?). Honestly, these are just out of the topic (not that far, tho).

Why do i write this? I don’t know. Mungkin karena sebagai orang dewasa yang pernah kecil, saya merasa ada banyak hal yang telah terjadi di dunia anak-anak, yang seharusnya bisa dihindari, yang merupakan akibat dari keengganan orang tua untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan penasaran anak-anak mereka. Seandainya mereka mampu mnenangkan mereka dengan jawaban, saya kira dunia ini akan sedikit lebih baik. Mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s