Konser Bjӧrk di Cincin Saturnus

Pagi kembali menyapa, namun kantuk belum datang juga. Setelah semalam begadang, sibuk menjelajahi dunia imajinasi yang tak memiliki batas, rasanya Aku sudah siap kalau harus berpindah dunia ke alam mimpi. Aku pun mematikan lampu, membiarkan ruangan disinari oleh cahaya pagi yang masih temaram, bersiap-siap merebahkan diri. Beginilah aku kadang-kadang, selalu menyiapkan diri untuk dibelai oleh kantuk, bahkan sebelum tanda-tandanya terlihat. Sebuah kebiasaan yang sering ditertawakan oleh tamanku. “Kalau tidur selalu siaga, tetapi kalau diajak main keluar, tampangnya malah kayak orang ngantuk,” sindirnya. Masa bodoh apa katanya. Yang penting aku punya kehidupan—walaupun berbeda dari orang-orang kebanyakan.

Aku berbaring, membiarkan kakiku terlentang lega. Kasihan mereka telah bersila terlalu lama. Kalau mereka punya mulut sendiri—dimana pun letaknya, pastinya aku selalu mendapat keluhan. Mereka seharusnya dipakai untuk berjalan, bukannya malah dilipat sebagai meja untuk laptop. Kalau itu terjadi, maka aku hanya bisa tersenyum maklum. “Nanti aku mulai jogging lagi,” ujarku seraya mengelus mereka. Aku juga mengelus perutku, yang kini sudah menjadi sarang lemak. Ya, itu adalah janji yang selalu aku ucapkan pada mereka setiap malamnya, yang sialnya selalu aku langgar setiap subuhnya. Untung mulutku cuma ada satu dan berada tak jauh dari otakku—dan yang penting, ada dalam kendaliku sendiri.

Pikiranku sudah tenang. Tak ada lagi ambisi masa depan yang semalam membuat kepalaku terasa seperti pasar malam, atau penyesalan masa lalu yang membuat lagu sedih terus-menerus terulang—juga di kepalaku. Aku sudah tenang. Pikiranku benar-benar siap menerima mimpi apa saja yang akan aku hadapi. Ibaratnya, kalau pun ajal datang menjemput, aku akan menyambutnya dengan semiang senyum. Tapi sayangnya sebuah cahaya biru kecil, yang awalnya aku kira adalah kunang-kunang, langsung menyala tepat di sampingku. Baterai ponselku telah penuh dan waktunya untuk mencabut colokannya. Sialnya, ketika aku melakukan itu, jariku tak sengaja menyentuh layarnya yang terlalu sensitif hingga membuat layarnya menyala menampilkan beberapa biji surel masuk. Ah, semua jenis pikiran beserta akar serabutnya pun kembali datang.

Tak ada yang penting dari surel itu, hanya pemberitahuan tentang postingan baru sebuah blog yang aku ikuti. Seharusnya itu bukan berita buruk. Namun aku mengeluh juga. Memang, kepalaku adalah pasar sensitif yang tak bisa disinggung sedikit pun topik. Bisa-bisa ia takkan berhenti berdengung. Dan itu terjadi saat itu juga. Entah bagaimana ceritanya, dari surel, aku tiba-tiba sudah berada di halaman browser internet yang di layarnya berisi tentang berita yang cukup menggelikan namun miris. Kalau disimpulkan, berita itu berisi ajakan berupa: “Ayo dukung Unand menolak LGBT.” Dahsyat!

What is the fucking problem with being different? Normal people think you are weird.

Ada apa dengan Indonesia? Apakah itu akibatnya kalau terlalu berambisi mengejar masa depan yang terlalu jauh di depan—alih bergerak maju, malah berjalan mundur? Ehm.. (surga alias akhirat).

Berita yang baru saja aku baca itu benar-benar telah merusak niat tidurku. Padahal aku sudah benar-benar rileks. Padahal otakku sudah jernih, siap untuk dijadikan sebagai sarang mimpi bagi kantuk. Namun kini, berkat berita negatif yang dianggap positif oleh kebanyakan orang-orang yang status kenegaraannya sama denganku itu, malah kantuk langsung berlari menjauh. Ia seperti kijang yang menyadari kedatangan seorang pemburu, atau jebakan mematikan untuknya. Untuk apa terus memanen rumput hijau yang segar kalau terus dilakukan maka kematian akan mendatangimu? Sial. Padahal aku sudah siap mati.

Ada apa dengan manusia Indonesia?

Ada apa dengan manusia Indonesia? Ada banyak hal yang perlu diberantas seperti KKN, Kemiskinan, Misoginis dan poligini, pernikahan perempuan pada usia dini, pendidikan yang tak merata, SDM yang tergolong rendah untuk ukuran global, dan segudang permasalah lainnya. Lalu kenapa sebuah universitas ternama tersebut malah memfokuskan diri pada sesuatu yang kalau dipikir-pikir dengan logika yang jujur dan netral malah bukan masalah sama sekali? Kenapa Universitas Andalas, salah satu perguruan tertinggi di Indonesia, malah memilih untuk tidak menerima orang-orang yang sayangnya (betapa sialnya mereka telah terlahir sebagai minoritas dalam segi seksualitas dan gender di negara ini) dianggap melenceng dari nilai agama dan budaya?

Adanya permintaan untuk menyertakan pernyataan bebas dari LGBT dalam pendaftaran ulang untuk mahasiswa 2017 membuat aku terkikik namun diam-diam berpikir keras. Pertama, apa maksudnya bebas dari LGBT? Apakah itu sejenis narkoba? Lalu, Kenapa itu dilakukan dan banyak pendukungnya? Dan ternyata, alasannya cukup klise. Penolakan terhadap LGBT itu karena adanya ketakutan akan terjadinya depopulasi terhadap manusia karena tidak ada pasangan sejenis yang dapat melahirkan keturunan normal. Boy, this is going  places. Not a good place, but places. Aku tiba-tiba saja merasa mual. Orang-orang ini, yang katanya adalah berpendidikan, yang pastinya punya jejeran gelar di depan dan belakang namanya, beginikah caranya berpikir? Sesederhana itukah bagi mereka permasalahannya? Rasanya, bebek-bebek penunggu kolam di belakang kosanku, yang selalu berenang setiap waktunya, terkadang sambil mengeluarkan suara berisik yang membuat telingaku terasa diomeli, kalau diberi kesempatan sekolah bertahun-tahun pastinya akan berpikir lebih bijak daripada itu. Mereka-mereka ini, orang-orang yang berpendidikan ini, tidakkah mereka tahu bahwa teknologi sudah sangat canggih saat ini? Tidakkah mereka tahu bahwa ilmuwan-ilmuwan sedang membahas tentang mengedit DNA manusia sekarang ini? Tidakkah mereka sadar bahwa hubungan badan bukan cuma untuk prokreasi? Lalu kenapa? Ah, sudahlah. Indonesia memang negara yang tak suka membaca, jadi wajar.

Aku kembali berbaring, mencoba melupakan apa yang baru saja aku baca dan berusaha terhipnotis oleh nyanyian puluhan bebek yang beraubade sambil berenang. Datanglah kantuk, otakku sudah kembali kosong, pintaku. Bohong, tentu saja. Pernahkah otak benar-benar kosong? Rasanya mustahil. Ya, begitu juga denganku. Topik itu telah membangkitkan diriku yang lain, yang biasanya selalu mencambukku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi sambil mengharapkan jawaban yang masuk akal. Ya, aku selalu berdebat dengan alter egoku sendiri. Rasanya itu wajar. Ada bibit-bibit yang belum sempat aku buang, hasil dari bacaan tersebut, yang kemudian tumbuh menjadi pohon baru, dan siap untuk diolah dalam perdebatan.

Agama dan Budaya?

Aku heran dengan orang-orang itu. Mereka-mereka yang menolak, maksudku. Kenapa mereka bersikeras sekali berpendapat bahwa LGBT itu lebih rendah dari binatang? Padahal setelah diteliti oleh ilmuwan-ilmuwan, banyak sekali binatang (selain manusia—ya, manusia adalah hewan juga) yang berperilaku homoseksual. Coba saja tulis kata bonobo di kolom pencarian youtube dan bersiap-siaplah terpukau—atau terkena serangan jantung bagi kalian yang mengira homoseksual hanya ada pada homo sapiens. Aku tahu bahwa tidak ada dalam budaya Indonesia yang jelas-jelas menerima tentang hubungan romatis sesama jenis. Setidaknya, belum kita temukan buktinya. Tapi, itu adalah budaya. Bukankah budaya seharusnya selalu berkembang mengikuti kebutuhan manusia? Coba lihat semua budaya, pasti ada satu dua yang tak dilanjutkan lagi karena alasan ketidakcocokan. Lalu, kenapa alasan budaya dipakai? Alasan ini justru merendahkan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan hal baru menurutku.

Agama? Ah, ya… Tuhan YME. Kalau Ia yang Serba Maha ini telah bersabda, maka apa daya kita? Apakah kita benar-benar tidak berdaya? Kalau begitu, bagaimana dengan 4 pertanyaan Epicurus yang melegenda itu? Ah, sudahlah. Jangan dibahas tentang itu. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang berada di lindungan Tuhan-Tuhannya. Mereka terlalu dekat dengan Tuhan-Tuhannya yang Maha Kuasa itu untuk sekedar bertanya. Alih-alih, aku lebih memilih berbicara soal agama saja.

Aku sebenarnya kecewa berat dengan Agama Islam di era saat ini. Ralat: bukan Agama(atau dinn)nya, tetapi orang-orang yang menganutnya. Sejujurnya, aku melihat, cara pandang mereka-mereka ini, muslim-muslim kebanyakan ini, malah merendahkan islam itu sendiri. Bagaimana mungkin Islam yang pada zaman keemasannya menjunjung tinggi ilmu pengetahuan tetapi saat ini, ketika merangkul ilmu pengetahuan itu lebih gampang dan mudah karena fasilitas, malah mereka seolah-olah menjauhinya? Agama tiba-tiba saja menjadi antonim dari Ilmu Pengetahuan. Berbeda sekali dengan kebanggan mereka atas ilmuwan-ilmuwan islam yang telah membantu perkembangan ilmu pengetahuan saat ini—yang nyatanya telah lama mati dan zamannya berlalu.

Berbicara tentang penolakan LGBT, kalau alasannya adalah budaya dan agama, rasanya itu terkesan dibuat-buat dan terlalu munafik. Mereka-mereka ini, yang menolak LGBT karena agama, mustahil tak ada dari mereka yang pernah mabuk-mabukkan, atau berbohong, atau mencuri, atau… melakukan banyak dosa lainnya. Mereka yang memilih budaya sebagai alsan menolak LGBT, adalah orang-orang yang sama yang mengikuti trend-trend yang mendunia, yang bahkan mereka belum tahu asal-usulnya dari mana, yang biasanya malah dianggap orang-orang tua mereka  tak sesuai dengan budaya sendiri. Ya. Mereka adalah orang-orang munafik, mereka-mereka ini. Tapi lebih jauh daripada itu, penolakan ini adalah salah satu bentuk diskriminasi buta. Diskriminasi yang benar-benar bahaya.

Tak ada diskriminasi yang lebih berbahaya daripada diskriminasi yang didukung oleh pemerintah. Sayang benar. Padahal ada UU (entah pasal berapa) yang mengatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang setara. Yang dititikberatkan disini adalah diberikannya kesempatan yang sama, kesetaraan. Lupakan dulu apakah LGBT itu pilihan atau tidak—padahal sebenarnya jelas-jelas bukan pilihan. Seharusnya pemerintah itu sadar bahwa bentuk diskrimiinasi ini benar-benar tidak baik. Diskriminasi ini mengajarkan bahwa membenci orang lain itu baik selama mereka berbeda, yang pada ujungnya akan membawa kepada perpecahan. Sayang benar, mengingat Indonesia sangat multikultural, yang berarti rawan terhadap perpecahan, apalagi kalau diskriminasi ditanam dan dipupuki oleh pemerintah. Buahnya nanti bisa lebih hebat daripada Mei 1998, takutnya. Jangan sampai.

Ada satu kesimpulan dasar tentang sikap manusia yang sepertinya diabaikan oleh manusia-manusia ini. Kalau seorang manusia membenci manusia lainnya hanya karena agamanya, atau orientasi seksualnya, atau suku dan ras dan etnisnya, atau kewarganegaraannya, yang perlu disadari adalah, bahwa orang-orang ini, yang tidak kenal siapa yang mereka benci ini secara personal selain alasan-alasan tersebut, maka mereka bukanlah orang baik-baik. Mungkin mereka mengira mereka adalah orang baik-baik, tetapi kenyataannya tidak. Orang baik macam apa yang belum kenal tapi malah sudah benci hanya karena satu yang tak bisa diubah dari manusia itu, yang pada dasarnya tak ada hubungan apa-apa dengan yang membencinya?

Membenci itu wajar, sebagai sifat manusia. Dan manusia butuh itu dalam kadar yang pas untuk tetap menjadi manusia. Tapi untuk membenci, apalagi mendiskriminasi, butuh alasan yang lebih kuat daripada itu.

Boy, you don’t have to accept, you just need to tolarate. Karena kenyataannya, tak ada heteroseksual yang akan mengerti tentang homoseksualitas, dan sebaliknya. Juga tak ada orang-orang yang cisgender mengerti tentang transgender, dan sebaliknya. Selayaknya yang ateis dan teis tak saling mengerti satu sama lain. Tapi tidak mengerti bukan berarti bisa dijadikan alasan saling membenci, apalahi mendisrikminasi. Itulah gunanya toleransi. Dan, bukankah manusia itu dianugerahi oleh Tuhan dengan kecerdasan untuk belajar dan memahami?

Boy, I’ve been talking too long. This is too long, alright. Terlalu panjang hingga aku tak sadar kantukku sudah kembali datang dan malah menyapaku dengan lembut, membuat aku menguap lebar seperti buaya yang tengah berjemur. Mimpi, aku siap menjelajahimu. Aku harap aku bisa mengikuti perjalanan sebelumnya yang sempat terputus. Semalam–maksudku kemarin paginya, aku sempat menonton konser Bjork di Cincin Saturnus. Ia menyanyikan lagu berjudul Cosmogony, bercerita tentang asal-usul semesta. Lagu yang indah dan mencerahkan. Semoga saja kali ini kesempatan kedua itu ada. Setidaknya, aku tahu, di alam mimpi kali ini, aku akan mencari Bjork ke Cincin Saturnus terlebih dahulu. Siapa tahu ia sedang menjalajahi Titan, salah satu bulan milik saturnus, dan menyelami lautnya untuk menyanyikan lagunya yang berjudul Oceania di dalamnya. Siapa tahu di sana tidak ada diskriminasi yang sama dan aku bisa tenang berlama-lama. Siapa tahu. Tak ada yang tahu.

Selamat pagi, Makhluk-Makhluk diurnal.

Selamat malam, Makhluk-Makhluk Nocturnal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s