Layang-Layang Putus

Layang-layang putus, kalah atas aduan sang pemilik di ujung benang. Ia yang mulanya gagah, menantang langit dari balik awan; tegar dengan kerangka buluhnya yang sempurna, menantang setiap embusan angin yang menerpanya; kini hanya bisa pasrah, seperti bangkai ikan yang hanyut dalam aliran sungai. Gengsinya telah meninggalkannya, tersangkut di benang lawan yang masih menari menyambut senja.

Advertisements

Birthday Boy in His Birthday Suit

Ketakutan yang tak beralasan, kata orang-orang. Aku harusnya tak setuju. Rasionalitasku berkata demikian. Tapi itu sesuatu yang tak bisa diterima oleh budaya, ketidaksetujuanku itu. Aku harus diam. Aku diajarkan untuk diam. Aku lebih baik diam daripada harus membantah. Tak ada penjelasan pasti. Bahkan untuk bertanya pun aku tak bisa.

Touché

Tawa kami renyah, menghiasi obrolan kami yang garing. Berbagai hal yang rasanya sepele kami murtadkan menjadi luar biasa. Di mata kami, bahkan seorang pengemis bisa menjadi raja. Lalu gerimis turun. Ia tersenyum seraya menunduk ke tanah. Tanah pun butuh istirahat, ujarnya.