Birthday Boy in His Birthday Suit

Aku selalu berpikir tentang matahari setiap kali mencoba untuk memulai tulisan. Baik itu senja ataupun pagi, aku tak begitu peduli. Aku tidak begitu tahu kenapa. Mungkin karena matahari adalah patokan waktu. Ketika ia terbit, maka warna biru menguasai langit. Keramiaan dan hiruk-pikuk menjadi kriteria. Namun ketika senja datang, malam berganti menjadi biru tua kehitam-hitaman. Manusia-manusia mulai kembali ke rumahnya masing-masing dan terlelap untuk menikmati mimpi.

Aku juga selalu memikirkan mimpi setiap kali aku mencoba berimajinasi. Baik mimpi dalam artian yang sebenarnya, ataupun mimpi dalam artian harapan. Kali ini aku tahu kenapa. Ada hasrat yang begitu dalam, seperti selayaknya kebanyakan manusia, untuk hidup lebih baik dan bahagia. Berbaring malas di teras menatap hamparan hutan yang setiap pohonnya dihuni oleh sekeluarga tupai; membalut diri dengan selimut yang tebal berwarna putih nan suci dan polos, menghangatkan diri, seraya menikmati rintik hujan yang deras di siang yang begitu dingin; Menarik napas yang dalam, memanen okisgen yang segar dari pepohonan hijau yang mengelilingi; semuanya adalah harapan yang aku kira tidak terlalu mengawang-awang. Impian yang aku kira ada banyak manusia yang sekarang sedang menikmatinya.

Tapi aku di sini, sendiri di dalam kamar sempit yang tak pernah rapi. Pikiranku menerawang namun kepalaku selalu tertunduk. Aku punya ketakutan tersendiri yang aku kira tak masuk akal bagi beberapa. Aku seorang pemimpi yang takut mengumbar-umbar mimpinya. Setiap harinya, terus terbayang-bayang akan masa depan yang mungkin saja takkan pernah aku alami. Mimpi-mimpiku yang sederhana itu, membuatku menjadi paranoia. Aku takut kalau-kalau kata-kata dari mulutku itu merasuk ke telinga-telinga yang tak sesuai. Telinga-telinga milik orang-orang yang berkacamata retak. Karena pada akhirnya, apa yang akan mereka lakukan malah akan menghambat mimpiku itu untuk menjadi nyata.

Ketakutan yang tak beralasan, kata orang-orang. Aku harusnya tak setuju. Rasionalitasku berkata demikian. Tapi itu sesuatu yang tak bisa diterima oleh budaya—ketidaksetujuanku itu. Aku harus diam. Aku diajarkan untuk diam. Aku lebih baik diam daripada harus membantah. Tak ada penjelasan pasti. Bahkan untuk bertanya pun aku tak bisa. Dan begitulah pada akhirnya, aku menjadi manusia yang selalu diam. Namun detik-detik yang terabaikan kini telah menjelma menjadi tahun-tahun yang layu. Waktu-waktu yang telah disia-siakan. Antara budaya dan rasionalitas yang dihantui mimpi-mimpi masa depan. Penyesalanku atas jalan yang tak pernah kutempuh pun semakin besar. Aku seperti mawar yang telat mekar, namun layu sebelum merekah. Tapi aku diam. Mulutku telah terlatih untuk tertutup.

Pada akhirnya, dalam diamku, aku hanya tertunduk seraya memimpikan tentang hari di mana matahari selalu berada di sudut langit. Pagi atau senja, aku tak peduli. Aku hanya butuh ia untuk diam di sana. Karena dengan bagitulah imajinasiku bisa terasa nyata. Di bawah cahaya senja nan jingga, atau fajar yang keungu-unguan, aku merasa seperti makhluk imajinasi yang penuh akan memori-memori masa depan.

Hari ke delapan, tahun ke dua puluh empat. Dalam ketelanjangan dan kesendirianku, aku mengutuk budaya dengan rasionalitasku yang berasaskan imajinasi-imajinasi sepuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s