Cermin

Aku tidur cukup lama pagi ini, enam jam. Terlelap setelah subuh, aku terbangun sebelum dzuhur. Tak ada mimpi, hanya tidur pulas yang membuat tubuhku menjadi segar. Aku lalu duduk bersila di kasur tipisku, menatap beberapa buku yang bertebaran tak teratur di lantai. Tak satu pun aku tamati sejak pertama kali kusentuh sebulan yang lalu. Novel-novel itu adalah bacaan yang cukup bermutu dan menghibur, kata orang-orang. Sayang, dua di antaranya bukan milikku.

Mataku terarah ke sebuah novel Berbahasa Inggris yang diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh Alfred H. Marks yang diberi judul Forbidden Colors. Kinjiki adalah judul aslinya, ditulis oleh Yukio Mishima yang terbit beberapa tahun setelah PDII terjadi. Warna sampulnya yang pastel adalah daya tarik pertama ketika aku menemukannya di sebuah rak di perpustakaan kesukaanku di sudut Jatinangor. Aku sengaja berkeliaran di rak novel-novel jepang karena candu ingin membaca sesuatu seperti No Longer Human yang ditulis oleh Osamu Dazai (Thanks to my friend ‘A’ for the recommendation).

Seperti biasa, aku selalu bertanya kepada pemilik perpustakaan itu—yang dengan bangganya (dan secara rahasia) sudah aku anggap sebagai teman dekatku—apakah novel yang hendak aku pinjam bagus dan layak dibaca. Tak seperti biasanya, salah satu dari sepasang pemilik ini menggeleng. Ia mengaku belum pernah membacanya hingga aku jadi semakin penasaran. Dan aku pun mulai membaca sinopsis di sampul belakang. Tertarik, aku pun akhirnya memutuskan untuk menyewanya bersama satu novel lagi yang berjudul Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi oleh yusi Avianto Pareanom yang ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menarik.

Sebulan kemudian, kedua novel ini masih belum kutamati. Walaupun setiap hari aku selalu mencoba membuka dan menikmati Forbidden Colors (selalu mengulang dari awal), tapi selalu saja aku gagal setelah mencapai halaman ke dua puluh dua. Ada kecamuk di dalam hati setiap kali aku mencoba untuk menikmatinya. Aku tak sanggup membacanya. Mungkin karena aku sudah bisa menebak bagaimana akhirnya, jadinya malah membebani alih-alih menghibur. Aku selalu termenung dibuatnya. Sebuah renungan yang selalu berujung pada pikiran negatif yang merusak.

Aku suka yang kelam-kelam, tetapi tidak yang kelam seperti ini. Kekelaman yang tersirat di novel ini aku kira tak baik untuk psikologisku. (Sial sekali baru aku sadari setelah sebulan kupinjam.) Tidak untuk saat ini. Alih-alih terhibur, aku yakin halaman terakhirnya akan membuatku kembali mengutuk diri, atau setidaknya mengutuk keadaan. Aku belum siap.

Forbidden colours, widely regarded as Mishima’s finest work, explores the issue of sexual hedonism in post-war Japan. Begitulah yang tertulis di halaman belakang. Satu kalimat itu sukses membuat aku merasa yakin untuk menjelajahi setiap halaman-halamannya. Sayang sekali aku mengabaikan kalimat-kalimat berikutnya yang hingga saat ini masih terngiang di pikiranku.

Forbidden Colors is a novel of great psychological depth, because the topic of gay Japanese men remains firmly hidden in the closet. Begitulah tulisan yang ada di paragraf kedua. Sejujurnya, kalimat ini juga menjadi alasan kenapa aku yakin untuk meminjam dan membacanya setelah kata finest work di paragraf pertama. Tapi sekarang, ini malah menjadi beban untukku. Satu kalimat saja bisa menjelaskan bagaimana kemungkinan isi dari  keseluruhan empat ratus halaman buku ini.

Kehidupan seorang gay sudah cukup menyedihkan, mengingat bagaimana mereka diperlakukan. Apalagi kalau keinginan untuk diterima cukup besar, maka kata bunuh diri akan menjadi sangat bersahabat dan terdengar menggoda. Jadi, untuk apa diperburuk dengan membaca sesuatu yang jelas-jelas adalah cermin dari kehidupan yang akan menunjukkan setiap ketidakadilan dunia yang dirasakan oleh si Pencermin itu?

Aku langsung bangkit, mengambil handuk dan semua peralatan mandi. Segera aku masuki kamar mandi dan kunyalakan keran. Kusiram tubuhku yang kini telanjang bulat. Aku tak menyanyi selama mandi. Aku memang jarang melakukannya. Bukan karena aku tak suka, hanya terkadang tak pernah terpikirkan untuk melakukan itu. Judul dan isi buku itu masih membeo di kepalaku. Mereka tak luntur terbawa titik-titik air yang menjajah tubuhku. Hingga akhirnya aku merasa bersih, dan aku siap untuk berangkat.

Kuambil Forbidden Colours itu dan kumasukkan ke dalam tas. Aku harus mengembalikannya. Aku tak peduli seberapa bagus isi atau cara penulisannya. Tidak untuk saat ini. Daripada aku terus meminjamnya yang berarti setiap minggunya harus membayar sewa, lebih baik aku mengembalikannya saja. Sayangnya, ketika aku sampai di sana, pagar dan pintu perpustakaan itu masih tertutup rapat. Padahal hari sudah siang. Mungkin pemiliknya masih merayakan lebaran. Mau tak mau, Aku harus pulang lagi. Masih membawa beban yang sama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s