Tulang Kering

Semakin hujan turun deras, semakin cepat rasanya angkot yang aku naiki ini melaju. Aku suka hujan. Aromanya, udaranya, bisingnya. Rasa suka yang klise, memang. Terutama ketika berada di dalam angkot yang cukup nyaman, maka hujan terasa semakin pantas. Apalagi di tengah hari yang semestinya terik ini. Tapi walaupun hujan, sederas apa pun itu, angkot masihlah sebuah angkot. Supir masihlah manusia yang butuh duit. Maka siapapun yang melambaikan tangannya, berniat untuk menyewa jasa untuk berpindah tempat, maka pintunya selalu terbuka.

Seorang ibu berlari kikuk. Satu tangannya terangkat cukup tinggi untuk memegang payung, sementara satunya lagi menggenggam erat lengan anak laki-lakinya, membantunya untuk melewati becek yang menjebak di jalanan berlubang. Aku kira umurnya masih lima tahun. Hujan yang deras membuat si Ibu menjadi tergesa-gesa. Ia memerintahkan anaknya untuk segera masuk. Ia alergi dengan tetasan hujan, aku kira. Sayangnya, angkot terlalu tinggi untuk anak itu dan sepertinya sepatunya sedikit licin sebab ketika ia hendak naik, ia terpeleset.

Bocah itu mengaduh. Celana jinsnya yang cukup tebal ternyata tak bisa menyelamatkan tulang keringnya dari rasa sakit. Sebagai manusia yang juga memiliki tulang kering, aku langsung mengernyitkan dahi. Aku tahu rasa sakitnya bukan main-main. Si Anak segera dibantu Ibunya dan duduk tepat di depanku. Ketika angkot mulai berjalan, anak itu mulai terlihat hendak menangis. Ia mengeluh ke Ibunya. Pertama, ibunya mengelus kaki anaknya. Lalu, ketika ia sadar anaknya hendak menangis, ia pun berujar, “Udahlah. Laki pasti kuat.”

Satu mantra itu tak hanya berhasil membuat si anak menahan tangisnya, tetapi juga membawa kembali sebuah ingatan di mana perbincangan yang sepertinya setopik pernah terjadi.

Aku tak pernah sendiri, walaupun aku terlihat hampir selalu sendiri. Ada aku yang lain yang selalu menemaniku hanya untuk menanyaiku pertanyaan-pertanyaan atau hanya sekedar tak setuju dengan pendapatku. Ia tak pernah setuju dengan pendapatku. Apa pun itu, masuk akal atau pun tidak, ia selalu berada di pihak lawan. Ya, orang-orang sepertiku ini memang selalu meragukan pendapatnya sendiri. Dan kami adalah nyata, terlepas dari tinggi-rendahnya tingkat kepercayaan diri kami.

Ia bertanya, “Apa yang membuatmu bersyukur atas hidupmu?”

Sejenak aku terdiam. “Entahlah,” jawabku, “mungkin tidak tidak terlahir sebagai perempuan.”

Aku tertawa. Dia juga tertawa. Tapi itu hanya terjadi di dalam hati karena ada banyak orang yang berada di sekitarku yang tak sadar akan nyatanya dialog ini. Kalau aku tertawa keras, pasti akan dianggap gila.

Aku tertawa karena itu lucu. Bukan lucu seperti lelucon lucu, tetapi lucu karena itu adalah sebuah ironi. Bukankah tragedi adalah sebuah komedi? Sesadar-sadarnya aku, aku tahu itu adalah pendapat pedang bermata ganda. Kalau aku suarakan di depan orang-orang biasa (katakanlah awam, dalam hal apa saja), maka kening mereka akan berkerut (mungkin. Entahlah. Who knows?). Sedangkan kalau para aktivis feminis mendengarkannya, pastilah aku langsung dikuliahi 2 sks. Tapi nyatanya, aku tak berniat untuk menyakiti atau merendahkan perempuan dengan jawabanku itu.

Aku bersyukur aku bukan perempuan karena kalau aku iya, dengan pikiran dan tingkah laku yang sama seperti ini, pastinya aku sudah dianggap perempuan yang tak baik-baik. Aku juga bersyukur karena aku tak pernah dipaksa untuk berpakaian sedemikian rupa hanya karena apa yang aku anut. Aku bersyukur karena tak ada yang menilaiku jelek ketika aku berbicara tentang hal-hal berbau seksual. Dan juga kalau seandainya aku sudah berhubungan seksual di luar nikah pun, aku takkan dipandang sejelek seorang perempuan yang pernah melakukan hal yang sama. Keperawananku tak sepenting dan sesuci keperawanan seorang perempuan (dalam perspektif negatif) untungnya. Seems legit, isn’t it? Dan itu berarti, betapa beruntungnya aku terlahir sebagai laki-laki yang mendapatkan banyak sekali keberuntungan. Hanya saja jangan sampai permbicaraan ini sampai ke orientasi seksual, or I’m F’d up.

Patriarki membuat seorang lelaki sedikit lebih menikmati hidup daripada yang bukan lelaki. Seperti layaknya keistimewaan biasanya, tak banyak orang yang menikmati itu sadar bahwa mereka memiliki keistimewaan tersebut. Tidak, sampai akhirnya kita mencoba memeras sedikit isi otak kita dengan empati dan simpati.

Sayangnya, setelah dipikir-pikir lagi, aku tak seberuntung yang aku kira hanya karena aku tidak terlahir sebagai perempuan. Sebagai lelaki, dan banyak lelaki lainnya, aku yakin kata patriarki ini sama merugikannya bagi mereka (kami) dengan para perempuan.

Aku kasihan melihat bocah itu yang terus mengernyit seraya mengelus lembut tulang keringnya. Sakit. Empatiku bekerja dan aku pun ikut merasakannya. Si Ibu, yang sepertinya takut anaknya terlihat lemah, dan melirik ke ibu lainnya yang duduk dengan anak gadisnya di seberang mereka, mencoba tak menghiraukan anaknya setelah mengucapkan mantra ajaib itu. Lihat dia, anak gadinya, masa anakku akan menangis di depan mereka? Sepertinya, baginya itu adalah salah kalau anaknya menangisi fisiknya yang sakit hanya karena ia laki-laki. Hanya perempuan yang boleh menangis. Karena (sepertinya) laki-laki itu bukanlah laki-laki kalau ia sempat mengeluarkan air mata. Tak ada kata bocah dalam kamus laki-laki. Selama kamu memiliki (terlahir dengan) penis, maka jangan pernah mengeluarkan air mata. Ah, bocah yang malang.

“Jadi, apa yang membuatmu merasa bersyukur sekarang, mengingat menjadi laki-laki saja tak cukup?” tanya si Aku yang Lain itu.

Entahlah. Mungkin aku harus bersyukur telah memiliki ibu yang tak pernah berbicara seperti itu kepadaku dulu. Ibu yang tak keberatan ketika aku menangis. Hei, aku masih bocah. Ibu yang tak keberatan ketika aku mengaduh kesakitan. juga, Aku masih bocah. Ya. Aku beruntung. Dan lebih daripada itu, ia adalah seorang perempuan. Ah, betapa pentingnya perempuan di dunia ini. Tak lebih atau kurang dari pentingnya laki-laki, aku kira.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s