Rihanna. One lucky bitch, yes she is.

Aku dikagetkan oleh sebuah telepon dari nomor asing sore ini. Setelah tiga kali tak aku angkat, akhirnya aku merasa kasihan juga. Panggilan keempat langsung aku jawab dan berdiam diri, menunggu si penelepon untuk berbicara terlebih dahulu. Ternyata itu adalah sepupuku yang sepertinya sudah lima tahun tidak bertemu (atau mengobrol, baik itu maya atau nyata). Tak banyak obrolan kami waktu itu. Ia hanya menanyai sesuatu yang menurutku tak terlalu penting seperti apa facebookku, instagramku, pathku, dan lain-lain. Untuk semua pertanyaan itu, aku terpaksa mengulang jawaban yang sama dengan nada yang sama, “tidak.”

Bukan karena aku tak ingin memberikannya, tetapi karena memang aku tak memilikinya. Aku keluar dari facebook kira-kira lima tahun yang lalu dengan alasan yang cukup bagus. Namun di awal tahun 2016, aku terpaksa kembali karena merasa dituntut di sebuah komunitas untuk mendapatkan informasi. Tapi itu hanya bertahan beberapa hari saja. Instagram pun aku pernah punya. Pertama temanku yang dengan jahilnya membuatnya ketika ia meminjam ponselku. O, inisialnya. Ia membuatnya dengan alasan agar ia bisa memberi hati pada fotonya sendiri. Tapi aku tak ingat apa kata sandinya. Beberapa bulan kemudian, tetangga kosanku pun melakukan hal yang sama padaku dengan alasan untuk berdagang (sesuatu yang ilegal, ehm). Dan akun itu bertahan beberapa bulan karena aku sempat menggunakannya untuk mengikuti beberapa akun penjual buku. Tapi setelah merasa itu tak ada gunanya (aku masih kostumer setia Periplus dan Rumah Buku Bandung), aku pun meghapusnya. Yang tak pernah aku miliki adalah Path.

Twitter kasusnya berbeda. Aku masih aktif menggunakannya hingga saat ini selain Quora (yang aku sarankan karena memang dapat menambahkan ilmu—sekaligus memperbaiki kemampuan berbahasa inggris yang baik dan benar). Beberapa kali aku pernah berganti akun karena sempat pusing terlalu banyak salah mengikuti akun. Tapi hingga saat ini, akunku aku pertahankan. Sayangnya (untungnya) sepupuku itu tak pernah menanyakanku tentang twitter. Mungkin karena ia tak memilikinya.

Setelah panggilan itu berakhir, aku pun jadi merasa perlu untuk mengecek linimasaku. Biasanya, aku selalu menyesal melakukan itu. Walaupun kali ini aku sudah sangat bijak untuk mengikuti orang-orang yang benar-benar aku suka atau memiliki dampak baik dalam hidupku, tetap saja aku bisa menemukan kebencian-kebencian yang dilepaskan ibaratkan peluru di medan perang. Beruntung sekarang aku hanya mengikuti sesuatu yang berbau internasional. Karena bagiku, menertawai kekonyolan Donald Trump dan pengikutnya jauh lebih nikmat dan menghibur rasanya daripada membaca cerita buruk tentang negeri ini. Aku sebaik mungkin menghindari untuk membaca cuitan yang menunjukkan betapa tidak tolerannya beberapa penduduk twitter itu.

Satu cuitan ke cuitan lain aku jelajahi. Aku tertawa ketika ada yang menyindir Donald Trump. Aku tertawa semakin keras lagi ketika ada akun yang bercuit tentang lucunya seekor anjing. Sumpah, keinginan untuk memiliki anjing dan kucing membuatku merasa senang dan sedih di saat yang bersamaan. Aku juga mengangguk nyaman penuh terima kasih ketika melihat nasihat dari beberapa tokoh lokal yang rasanya masuk akal. Tapi, tiba-tiba saja sebuah cuitan membuatku langsung berkomentar penuh iri dan kesal di saat yang bersamaan.

“Fvck. Rihanna’s one lucky bitch. Yes she is,” kutukku penuh dengki.

Aku tak sengaja menelusuri balasan cuitan demi cuitan hingga terlihatlah foto Rihanna sedang bermesraan di kolam renang bersama pacarnya seorang pria arab. Aku iri, tentu saja. Selain pria itu benar-benar tampan, ia juga kaya raya. Jujur saja, saat melihat foto itu, imajinasi mesumku langsung bangkit. Dan akhirnya, aku malah marah sendiri.

Cuitan itu sebenarnya adalah sebuah pertanyaan dari seorang warganet untuk seorang yang sepertinya adalah ulama muslim. Apa hukuman bagi pria yang tertangkap seperti ini, begitulah pertanyaannya. Dijawab olehnya seperti, “harus ada empat orang muslim yang melihat masuknya kelamin si pria ke tubuh si perempuan, barulah boleh dikatakan zina.” Dan ia menambahkan bahwa hukuman untuk orang itu sama beratnya dengan orang yang bertanya karena ia telah mengurusi masalah pribadi orang lain. Inilah yang membuat aku kesal.

Pertanyaanku sama seperti cuitan yang aku lihat pada awalnya. Kenapa bisa tidak adil begini? Bagaimana mungkin jawabannya bisa begitu islami dan penuh pemikiran kalau yang jadi objek adalah pria, sementara kalau perempuan, penghakiman langsung dijatuhkan? Di saat yang bersamaan, banyak perempuan-perempuan arab dihukum hanya karena ketahuan berpegangan tangan dengan pria lain atau malah mengenakkan pakaian yang ia sukai namun bertentangan dengan budaya.

Ah. Pada akhirnya aku berkata pada diriku sendiri, “tak usah dipikirkan. Sudah banyak yang berpikiran seperti itu. Takkan ada yang berubah kalau semua orang yang berpikiran seperti itu sama seperti kamu, tak melakukan apa-apa.”

Astaga. Entah sudah keberapakalinya minggu ini aku tersinggung atas ucapan diriku sendiri. Tapi, Aku Yang Lain ini sebenarnya ada benarnya juga. Alih-alih terus memikirkan tentang ketidakadilan itu, aku pun kembali merangkul pikiran mesumku. Aku lelaki, jadi wajar (Sorry, Ladies).

Sialnya, pikiran mesumku kali ini malah berakhir pada pertanyaan baru. Pertanyaan yang membuatku kembali memikirkan tentang film-film yang pernah aku tonton; tentang kehidupan-kehidupan yang aku percayai sejak kecil berbeda seratus delapan puluh derajat di benua barat sana. Seperti kebanyakan anak-anak, dulu aku percaya bahwa perempuan-perempuan barat itu—seperti Rihanna, tentu saja—adalah perempuan-perempuan mesum yang sangat menyukai hal-hal berbau seksual. Dan kini, aku bertanya lagi, kok bisa?

Kenapa di film-film barat, khususnya hollywood, perempuan terlihat nyaman sekali membahas tentang penis? Mereka senang sekali berbicara tentang posisi-posisi seksual. Sementara di kehidupan sehari-hariku, bahkan ketika SMA, tak pernah sekali pun aku mendengarkan perempuan yang berbicara sama seperti siswi-siswi SMA di Hollywood sana tentang seks. Bahkan ketika ada anak laki-laki yang iseng membahas tentang seks, kalau tidak diam, yang perempuan paling meneriakkan kata i untuk menunjukkan kejijikan. Apakah seks begitu menjijikkannya bagi perempuan? Lalu kenapa perempuan-perempuan berkulit pucat dan berambut warna-warni itu menikmatinya?

Ada sedikit perubahan ketika aku memasuki universitas. Walaupun temanku yang pertama menikah—juga seorang perempuan—sama tak nyamannya ketika ada yang membawa lelucon tentang hubungan seksual, aku bisa menemukan satu dua perempuan yang nyaman berbicara tentang hubungan seks. Mungkin kasusnya berbeda karena di komunitas itu, ia sama sekali tak dianggap rendah ketika berbicara begitu. Aku kira, mungkin karena mereka nyaman, maka aku pun tak meraskan sesuatu yang berbeda. Hingga akhirnya, aku pun menemukan jawaban-jawaban pertanyaan gilaku itu.

Aku salah. Perempuan-perempuan Bule itu bukanlah orang-orang yang gila akan seks. Mereka hanyalah manusia-manusia yang sama yang membicarakan tentang kebutuhan mereka, selayaknya para pria. Pandangan bahwa mereka terlihat menonjol karena di sini, di indonesia, perempuan tak sepantasnya berbicara seperti itu. Itulah yang membuat mereka terlihat seolah lebih gila daripada laki-laki tentang seks. Lalu, kenapa mereka berbeda?

Nama Ayu Utami tiba-tiba muncul di benakku. Aku tersenyum dan bersyukur di saat yang bersamaan atas kesempatan pernah membaca tulisan-tulisannya. Ada jawaban yang pernah aku lupakan di buku-bukunya. Tentang keiriannya terhadap kesempatan remaja-remaja pria yang nyaman bereksplorasi tentang tubuh mereka, tentang pria-pria yang menemukan kenikmatan seksual mereka di usia dini, dan tentang lelucon-lelucon seksual yang tak merendahkan. Ah, lagi-lagi jawabannya adalah tabu. Kasihan perempuan. Karena tabu, mereka merasa ada yang salah pada diri mereka yang sebenarnya nyaman.

Aku adalah pemimpi. Kata temanku kata itu aneh ketika aku menggunakannya untuk menggambarkan diriku. karena aku tak percaya doa, makanya aku tak cocok menggunakan kata itu. Tentu saja aku tidak setuju. Tapi aku menghargai pendapatnya, dan membiarkannya tetap percaya hal seperti itu. Tapi, kalau satu doaku dijamin akan terkabul, maka aku akan berdoa sebuah kehidupan di mana manusia bisa bebas mengekspresikan keinginan mereka selama itu tak merugikan bagi orang lain.

Gila. Inilah kenapa aku benci dan cinta pada twitter. Cuitan yang hanya terdiri dari 140 karakter itu bisa membuat pikiranku menjadi berantai-rantai penuh cabang. Dari Rihanna yang beruntung, tanpa aku sadari aku sudah memikirkan tentang sistem pendidikan yang jelek di negara ini. Aku tak tahu, apakah aku harus berterima kasih kepada twitter, para warga-warga yang menikmatinya, atau Tuhan atas kemampuan  manusia untuk berpikir. Entahlah, aku bingung. Semoga saja Tuhan itu ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s