Bagian 1 : Rumah Baru

Ada kedewasaan yang terpancar dari senyuman bocah itu. Bocah yang berdiri tegap, melengkungkan bibirnya seraya menatap sebuah mobil putih yang melaju perlahan menjauhinya. Di buntut mobil itu, asap mengebul seolah sedang kentut.

Di balik usianya yang masih belia, ia mengerti apa yang sedang terjadi dan kenapa itu bisa terjadi. Satu bagian dari hidupnya kini telah menjauh, pergi agar ia bisa hidup dengan layak. Bagian itu seperti api, yang menghangat di kala berjarak, tetapi panas membakar dikala tersentuh. Tak ada pilihan lain selain menjauh. Dan bocah itu paham.

Ada suara tepuk tangan yang meriah mengelilingi bocah itu. Tepukan yang diiringi oleh rasa kagum. Sesuatu yang takkan bisa dimengerti selain mereka yang bertalian darah. Karena alasan kekaguman itu adalah atas senyuman yang sederhana milik si bocah. Tak ada yang istimewa dari senyuman itu. Ia hanya tersenyum biasa, sama seperti ketika ia berpapasan dengan temannya yang tak terlalu dekat dengannya di jalan, atau ketika ia menyadari kucingnya mendekat dan mengemis makanan kala makan malam. Tak ada yang istimewa, memang. Tapi senyuman itu lebih baik daripada apa yang mereka harapkan. Karena di pagi yang masih sunyi ini, tak ada tangisan yang mengawali sebuah drama.

Bocah itu lalu berbalik, melihat manusia-manusia dewasa yang sedang memperhatikannya. Senyumannya luntur diganti dengan mata yang jeli penuh tanya. Tak ada sedikit pun kesedihan yang muncul di air mukanya. Langit cukup cerah pagi ini, dan hujan benar-benar takkan turun di wajah bocah itu. lalu Bibinya mengangguk, mengerti apa maksudnya dan meraih tangannya untuk membantunya menaiki motor yang sudah dikuasi oleh anak bungsunya yang masih gadis. Bocah itu langsung memeluk pinggul gadis itu, mengisyaratkan kesiapan untuk di bawa ke manapun sepupunya itu membawanya. Maka, melajulah motor itu ke arah yang berlawanan dengan mobil putih yang telah merenggut satu bagian penting dari hidupnya; api yang menghangatkannya selama ia tak tersentuh.

Rumah itu berwarna putih, dengan model sederhana yang minimalis. Tumbuh sebuah pohon arumdalu yang menyambut setiap tamu di gerbang, yang bocah itu kira bernama sedap malam karena aromanya yang tajam menggoda ketika malam datang. Tak ada yang asing baginya di rumah itu. Jendelanya yang gelap, atau layarnya yang berwarna merah darah kontras dengan hitamnya kaca dan putihnya dinding, semuanya bukan hal baru bagi si bocah. Satu hal yang baru baginya adalah menganggap rumah itu sebagai tempat tinggalnya yang baru. Dan ia tahu bahwa ia harus membiasakan diri.

Motor itu masuk ke gerbang hingga sampai ke teras rumah. Beberapa langkah di depan pintu masuk, barulah motor itu berhenti. Bocah yang mengerti langsung turun, dan sigap mengambil tas sekolahnya yang tergantung di bawah stang motor.

“Taruh di mana, kak?” tanya bocah itu.

“Bawa ke kamar kakak saja, Dim,” jawab sepupunya, “sekarang kita berbagi kamar.”

Bocah itu, yang bernama Dimas, pun mengangguk. Ia segera masuk ke pintu yang telah terbuka, melewati ruang tengah yang kosong namun berisik oleh televisi yang menyala. Ia terus melaju hingga sampai di sebuah kamar yang cukup besar yang di dalamnya terdapat satu ranjang besar dan dua ranjang kecil bertingkat di tepinya. Ia berhenti dan menatap ke sekeliling, tak tahu ranjang mana yang akan jadi miliknya.

“Kamu yang itu,” ujar seseorang. Dimas mengenal suara itu. Ia adalah sepupu lainnya yang juga menganggap rumah itu sebagai tempat tinggal barunya. Hanya seminggu lebih awal. Anggun namanya. Dan ia berumur tujuh tahun, setahun lebih tua dari pada Dimas.

Dimas mengikuti arah telunjuknya dan berjalan mendekati ranjang bertingkat di sudut timur kamar. Tapi sekali lagi ia berhenti, dan membuang tatapan kepada Anggun, menunggu sebuah petunjuk baru.

“Kamu yang atas,” ujar Anggun lagi. Lalu ia menyumpal mulutnya dengan donat yang sejak tadi ia genggam di tangannya. Ia menyaksikan Dimas menaiki tangga ranjang itu dan menaruh tasnya di ranjang sebelum akhirnya kembali turun untuk menghampirinya.

“Kamu tidak nangis, Dim?” Anggun menelusuri mata sepupunya, mencari jejak air mata yang tak ia temukan.

Dimas menggeleng. Ia tak terlalu suka berbicara. Tapi ia suka mendengar orang yang sedang berbicara. Dan untuk itu, ia tak masalah seberapa banyaknya tanya yang akan dibuang Anggun kepadanya.

“Kenapa?” tanya Anggun lagi.

Kali ini Dimas menjawab dengan kedua bahunya terangkat. Lalu kepalanya menoleh ke televisi, menyaksikan Tom and Jerry yang sedang tayang dengan musik khasnya. Berdua, mereka langsung duduk di depan televisi dan menyaksikan tiap adegan kekerasan yang mereka kira lucu itu. Tapi tak ada tawa yang keluar dari mulut mereka.

Anggun menelan donatnya sambil matanya penasaran memeriksa air muka Dimas. Sesekali ia menoleh ke layar kaca, sesekali ia kembali menatap Dimas. Lalu ia menengadah untuk memeriksa jam dinding.

“Pukul dua kurang sepuluh menit,” gumam Anggun. Ia tak suka kekauan dan selalu berniat untuk memcahkannya.

“Pukul sepuluh lewat sepuluh,” kritik Dimas. Nada suaranya sedingin cuaca di kutub selatan. Matanya ikut terpaku ke jam dinding, seolah terhipnotis oleh denting detik yang bertempo datar.

Anggun cemberut. Ia tak suka dikritik, tetapi ia juga tahu ia salah. Lalu ia menepuk-nepuk tangannya agar sisa-sisa makanan lenyap dari sana. Kemudian, satu tangannya yang ia kisa sudah bersih ia angkat dan ditaruhnya di pundak sepupunya.

“Aku menangis sampai berjam-jam waktu Ibu naik mobil,” ujar Anggun. Ia masih terus menepuk pundak Dimas, seolah dengan begitu ia bsia berbagi emosi dengannya. “Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Besok kita berangkat sekolah bareng.”

Dimas langsung mengangguk. Ia ikut mengangkat tangannya dan menepuk lembut pundak Anggun. Kini mereka berbagi emosi.

Suara motor kembali terdengar. Diikuti oleh derap kaki yang berat dan sebuah bayangan tak jelas yang semakin mengecil dari lubang pintu. Bibi masuk dan tersenyum melihat dua keponakannya sedang menikmati tayangan televisi. Ia tak mempermasalahkan dua karakter kartun itu sedang saling menyiksa. Ia bahkan tak sadar itu pernah terjadi. Baginya, tak ada tangis di rumahnya adalah surga. Lalu ia terus melangkah, memasuki dapur sambil membawa sebuah kresek hitam di tangan kirinya. Itu adalah beras, yang ia percaya berbeda dari beras-beras lainnya. Karena ada mantra ajaib yang membedakannya. Mantra yang membuat rindu tak pernah datang menghampiri manusia yang sedang ditinggalkan oleh orang-orang tersayang.

Bibi keluar dari dapur dan menghempaskan pantatnya di sofa yang cukup empuk di depan televisi, menyaksikan dua keponakannya tengah duduk mematung menonton televisi saling menyentuh bahu mereka. Tangannya kini kosong, tak menggenggam apa-apa. Ia bahkan tak berniat menyentuh remot televisi yang sedang terbaring mengoda di sampingnya.

“Sri, nasinya ditanak, ya. Ibu capek,” teiiak Bibi memerintah.

Anak bungsunya masuk tanpa rela melepaskan kunci motor yang masih menggantung di genggamannya. Ia terus melangkah hingga sampai ke dapur.

“Beras yang di kresek ambil segenggam saja. Campuri dengan beras yang lain,” perintah ibunya.

Anggun dan Dimas mendengar dengan jelas perintah itu. Tapi mereka sengaja mengabaikannya. Mereka tak peduli. Itu bukan urusan mereka. Ada tayangan yang menghibur di depan mereka. Pertengkaran kucing dan tikus itu lucu. Mereka setuju. Tapi mereka tak tertawa. Tidak untuk hari itu.

(-Anak Kemiri-)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s