Ekspektasi yang membebani

Hal pertama yang diperhatikan oleh manusia setiap kali seorang bayi dilahirkan adalah jenis kelamin. Itu sangat penting hingga banyak orang tua yang menamai anak mereka berdasarkan hal itu. Nama, selain adalah identitas utama yang akan digunakan seorang manusia hingga akhir hayat atau sampai mereka menggantikannya, juga adalah sebuah doa dan harapan orang tua kepada anaknya. Tak heran kalau orang tua berlomba-lomba menamai anak mereka dengan kata-kata yang penuh makna dan terdengar indah.

Bayi laki-laki akan diberikan nama yang terdengar jantan dan penuh wibawa, agar itu tercermin pada kepribadiannya kelak yang dipastikan akan menjadi seorang imam. Perempuan akan diberikan kata-kata yang cantik dan anggun, seperti bunga-bungaan yang indah dan wewangian yang harum, agar mereka bisa menebarkan keindahan dan kekaguman seperti selayaknya perempuan itu diharapkan.

Orang tua yang baik adalah orang tua yang mengharapkan semua yag terbaik bagi anak-anaknya. Harapan itu didasarkan atas keinginan untuk  menyaksikan anaknya hidup bahagia, setidaknya setingkat di atas mereka. Untuk mencapai itu, tak jarang orang tua berkorban dan berusaha habis-habisan agar semuanya tercapai. Semuanya dipersiapkan agar anak mereka mampu bertahan di dunia yang kejam di luar sana. Mulai dari hal-hal yang berbau material, hingga mental. Ekspektasi-ekspektasi ini, adalah pohon yang tumbuh dari bibit harapan yang sederhana seperti dalam bentuk nama dan artinya tadi.

Ekspektasi-ekspektasi ini baik, tentu saja. Namun terkadang, ada ambisi yang terlalu kuat, yang membuat orang tua menjadi buta dan egois serta lupa bahwa anak-anak mereka kemudian akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang memiliki pikiran sendiri dan hidup di zaman yang berbeda. Ekspektasi yang hanya berdasarkan keinginan sepihak yang membuat orang tua merasa tak perlu tahu apa yang sedang terjadi di kepala anaknya dan sok tahu atas apa yang terbaik bagi anak mereka. Ekspektasi-ekspektasi yang didasarkan atas penghakiman masyarakat yang pada akhirnya tak bisa disamaratakan kepada semua anak-anak karena tak semuanya memiliki kepribadian yang sama. Dan ketika ekspektasi itu dipaksakan, namun hasilnya tak sesuai kenyataan, maka akan muncul kekecewaan yang cukup besar.

Di masyarakat luas, dikenal hanya dua jenis kelamin, sebuah dikotomi antara maskulinitas dan feminitas. Itu adalah dua kutub yang tak pernah saling menyatu. Ketika yang terlahir adalah laki-laki, maka ia tak punya pilihan selain merangkul maskulinitasnya. Begitu pun dengan perempuan dan feminitas. Tak ada kata antara dari dua hal itu, dan tak juga ada pilihan. Masyarakat tak mau tahu apa yang ia pikirkan. Selama ia memiliki penis, maka ia harus menampilkan kejantanan. Dan ekspektasi-ekspektasi atas kejantanan pun langsung dibebankan kepadanya, bahkan sejak ia masih bayi, ketika ia belum tahu caranya berpikir. Ekspektasi-ekspektasi ini, yang usianya terkadang lebih tua dari usia anak itu sendiri, menjadi sebuah jalan setapak yang harus dilalui. Beberapa beruntung ketika ia merasa nyaman dengan jalan tersebut. Sayangnya, bagi mereka yang tak nyaman, tak ada pilihan lain selain berpura-pura merasa nyaman dan hidup dengan penuh kebohongan atau dianggap tak berterima kasih ketika memilih jalan yang ia pilih sendiri.

Tak seperti orang tua yang memiliki pilihan utuh apakah mereka akan memiliki anak atau tidak, anak-anak sama sekali tak punya hak istimewa tersebut. Mereka tak pernah punya pilihan terlahir di mana, di keluarga macam apa, dan dengan jenis kelamin apa. Namun, alih-alih diterima sepenuhnya, mereka malah dibebani dengan tanggung jawab yang seharusnya mampu mereka pilih. Mereka diwajibkan membalas jasa kepada orang tua mereka karena telah dilahirkan di dunia, padahal mereka lahir hanya karena keinginan orang tua atau paksaan nenek mereka untuk menggendong bayi. Lalu mereka diajarkan untuk menganut agama tertentu, mengikuti budaya tertentu, dan bertingkah sedemikian rupa. Semua itu, yang logikanya adalah pilihan-pilihan yang sewajarnya diberikan kepada anak-anak, malah menjadi rantai tak kasat mata yang mengikat atau kalau terputus maka mereka akan dicap tak baik.

Kasih ibu sepanjang masa. Pribahasa itu sangat terkenal hingga itu ditanam ke pikiran anak-anak semenjak mereka kecil di bangku SD atau TK. Lewat pribahasa itu, anak-anak diberitahu bahwa apa pun yang terjadi, ibu mereka takkan berhenti menyayangi mereka. Akan selalu ada cinta yang menghangatkan rumah mereka. Tapi kenyataannya, tak semuanya seperti itu. Karena bagi sebagian orang tua, ekspektasi-ekspektasi yang membebani itu lebih besar dan kuat dibandingkan cinta mereka kepada anak-anaknya.

Tak jarang kita dengar nasihat orang tua kepada yang muda untuk menjadi diri sendiri. Sayangnya, nasihat itu ternyata tak sesederhana kalimat tersebut. Nasihat itu membebaskan yang muda untuk menjadi apa saja selama berada dalam lingkaran tertentu. Sayangnya, tak semua orang terlahir di dalam lingkaran keberuntungan itu dan memaksakan diri untuk tetap berada di sana adalah penyiksaan diri. Ketika sadar anak-anak yang mereka harapkan untuk tumbuh dan menjadi sedemikian rupa ternyata tak sesuai harapan mereka, kekecewaan membawa orang tua menjadi bertingkah tak masuk akal. Tak jarang anak laki-laki dididik dengan kekerasan agar ia menghilangkan sikap kemayunya. Lebih parah lagi, tindakan itu dianggap wajar oleh masyarakat karena angapan bahwa begitulah seharusnya orang-orang seperti itu diperlakukan. Perempuan-perempuan pun mendapat perlakuan yang sama. Ketika mereka tak memiliki kemampuan untuk menjadi ibu seperti memasak atau membersihkan rumah, maka penghakiman jelek langsung mereka terima.

Berdasarkan penelitian Arus Pelangi pada tahun 2013, sebanyak 63,3% LGBT di Indonesia mengalami kekerasan budaya. Kekerasan budaya itu berupa pengusiran dari rumah atau kos serta paksaan untuk menikah dengan orang yang tak mereka kehendaki. Mirisnya, 76% dari kekerasan itu dilakukan oleh keluarga sendiri. Pengusiran ini tentu saja mempengaruhi hidup anak-anak mereka. Mereka tak lagi bisa menikmati hidup yang sewajarnya seperti orang-orang seumur mereka. sementara teman-teman mereka yang dianggap normal berkonsentrasi belajar untuk masa depan mereka tanpa terbebani oleh masalah keuangan, orang-orang yang terusir ini malah bersyukur bisa makan hari ini. Tak ada lagi cita-cita yang mereka inginkan sejak kecil dulu. Tak ada lagi rumah yang hangat dengan cinta keluarga untuk mereka. Lalu, bagaimana mungkin ekpektasi yang awalnya berniat baik tapi berakhir seperti ini? Pertanyaannya, di mana nilai pribahasa kasih ibu sepanjang masa yang sejak kecil ditanam di kepala mereka?

Ekspektasi-ekspektasi itu ternyata memiliki lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Hal itu sama bahayanya dengan cerita malin kundang yang meyakinkan ibu-ibu bahwa semua anak harus mengikuti apa kata mereka, atau mereka akan dicap durhaka. Ekspektasi-ekspektasi itu, yang terus dibebankan kepada anak-anak mereka, seolah anak mereka takkan pernah tumbuh menjadi manusia dewasa yang utuh yang punya pilihan dan kehendak sendiri. Padahal, yang membedakan manusia dengan hewan-hewan lainnya adalah perpaduan antara logika dan kehendak. Jadi, kenapa ekspektasi-ekspektasi yang pada akhirnya akan membawa kekecewaan itu dibebankan kepada anak-anak? Logikanya, kalau anak-anak dididik dengan baik, maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang baik pula. Tapi, menjadi sekedar manusia yang baik dan bermanfaat bagi khalayak ternyata tidak cukup bagi beberapa orang tua. Mereka harus lebih dari itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s