Tak ada surga untuk para homoseksual

Islam yang berarti keselamatan, adalah agama yang menempatkan diri sebagai penebar kedamaian di dunia. Setidaknya, begitulah para pemeluk Islam meyakininya.  Walaupun di dalam Islam diyakini bahwa setiap sesuatunya telah diatur oleh Allah S.W.T., manusia tetap punya kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri berdasarkan pilihan dan apa yang ia lakukan selama hidupnya. Mungkin itu terdengar tak masuk akal bagi yang bukan pemeluknya, tetapi itulah keistimewaan Islam yang diyakini pemeluknya.

Berbicara tentang islam, berarti berbicara tentang aturan-aturan hidup. Seluruh muslim di dunia percaya bahwa dunia ini hanyalah pesinggahan sebelum akhirnya bertemu dengan kekekalan.  Itu adalah jalan bercabang dua yang akan menentukan apakah ke surga atau ke neraka seseorang akan berakhir. Islam menawarkan aturan-aturan yang akan membantu manusia dalam menjalani hidup. Mulai dari cara makan, cara berpakaian, cara bersosialisasi, hingga cara mengatur nafsu. Semuanya tertera di dalam kitab suci dan hadis. Kalau aturan-aturan itu dipatuhi, maka surgalah balasannya. Walaupun selalu ada godaan yang membuat aturan-aturan itu sulit untuk dijalani, manusia tetap berlomba-lomba agar ia bisa memiliki sebuah tiket untuk ke surga.

Walaupun dikatakan bahwa ibadah tak seharusnya dilakukan karena mengerjakan surga, tapi tak bisa dipungkiri bahwa banyak manusia yang menginginkan surga dan hanya karena itulah mereka memilih patuh akan aturan-aturan itu. Satu-satunya alasan adalah karena surga menawarkan semua jenis kemewahan dan kesenangan yang merupakan kelipatan dari apa yang bisa ditawarkan oleh dunia. Lebih hebat lagi, itu semua bersifat abadi,tak seperti dengan apa saja yang ada di dunia yang katanya semu dan hanya sementara. Berbeda dengan neraka yang merupakan rumah bagi segala macam siksaan. Surga adalah seperti magrib di bulan puasa bagi para muslim. Karena di surga, semua yang dilarang di dunia bisa dilakukan dengan sepuasnya. Puasa yang panjang bertemu dengan buka yang abadi. Terutama hal-hal yang berbau seksual. Kehadiran puluhan bidadari yang akan melayani nafsu birahi para pria, yang akan selalu perawan setiap selesai disetubuhi, adalah salah satu dari daya tarik utama yang membuat setiap pria ingin segera ke sana. Tentu saja bidadari-bidadari itu bukanlah satu-satunya fasilitas yang disediakan oleh surga. Semua bentuk kemewahan juga tersedia di sana. Namun dalam perspektif manusia dewasa yang masih hidup di dunia, pastinyahal-hal yang berbau birahi menjadi sangat menggoda. Dan, di sinilah permasalahannya. Surga ternyata bukan untuk semua orang, terutama para homoseksual.

Mayoritas muslim pasti akan sangat setuju dengan pendapat itu tanpa merasa perlu dipikirkan ulang dengan kritis. Tidak hanya karena mereka percaya bahwa homoseksual adalah perbuatan yang dilaknat oleh Allah S.W.T. seperti yang pernah terjadi pada Kota Sodom, tetapi juga mereka percaya bahwa homoseksual adalah sebuah penyakit yang perlu diobati atau hanya pilihan hidup yang salah. Bahkan banyak dari mereka yang berpendapat bahwa homoseksual itu lebih hina daripada binatang. Padahal kenyataannya, tidak hanya dalam ilmu biologi bahwa manusia juga termasuk salah satu spesies dari binatang, tetapi juga telah ditemukan perilaku homoseksual di ribuan jenis hewan. Terlepas dari pendapat itu, kalau seandainya Tuhan ternyata menerima homoseksual juga di surga, sudah jelas kenapa surga bukan diperuntukkan untuk kaum homoseksual. Karena hanya bidadarilah yang katanya diperuntukkan untuk para pria, bukan bidadara.

Dikatakan bahwa salah satu kenikmatan surga adalah kemampuan lelaki untuk menggauli seratus wanita dalam sehari. Dan oleh karena itu, sibuklah para lelaki-lelaki penduduk surga atas kenikmatan itu. Tapi dalam logika dunia fana, memiliki kemampuan untuk menggauli seratus perempuan dalam sehari bukan berarti mereka harus melakukan itu. Pastinya mereka bisa memilih karena surga tentu saja takkan ada paksaan. Apalah arti sebuah surga kalau semuanya serba dipaksa? Artinya, seandainya soerang pria homoseksual yang sangat taat di dunia dan diterima di surga, maka kemampuannya itu akan sangat sia-sia. Untuk apa bidadari-bidadari itu kalau tak digauli? Tak ada gunanya berbicara tentang baju-baju mewah dengan mereka karena pastinya mereka lebih memilih tak berbusana agar selalu siap kalau dibutuhkan. Tak ada gunanya juga menjadikan mereka sebagai teman bergibah karena pastinya semua  orang pantas untuk diperbincangkan mengingat apa kesibukan mereka. Lalu pertanyaannya, untuk apa seorang homoseksual ingin masuk surga?

Sekasihan-kasihannya seorang pria homoseksual, lebih kasihan lagi perempuan homoseksual. Bagaimana mungkin mereka akan merasa adil kalau yang disediakan untuk mereka adalah laki-laki yang soleh dari dunia, tetapi tak satupun dari bidadari-bidadari yang melimpah itu? Namun dari logika tersebut, berarti semua perempuan entah homoseksual atau heteroseksual, sama kasihannya. Mana mungkin laki-laki akan memilih perempuan bumi kalau puluhan bidadari tanpa cela telah tersedia untuk mereka seorang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s