Harga seorang perempuan

Selalu ada drama di rumah bibiku. Terakhir kali aku mendengar kabar, ia diusir oleh suaminya dan harus menginap di rumah nenekku yang jumlah kamarnya terbatas. Ia dan anak bungsunya terpaksa tidur di ruang tamu selama beberapa minggu. Dalam artian lain, selama beberapa minggu itu, mereka hidup terlantar. Semua itu berakhir ketika pamanku kembali untuk menjemputnya pulang. Tapi, tentu saja itu bukan hal baru bagi pasangan suami-istri beranak tiga itu, atau pun bagi kami keluarganya yang terus menjadi saksi.

Suatu hari, aku menelpon nenekku yang sudah lama tak aku hubungi. Karena untuk pendidikan, aku harus tinggal di seberang pulau jauh dari nenek dan keluargaku. Pembicaraan kami saat itu terganggu oleh suara berisik. Saat aku tanya itu suara apa, nenekku dengan antusiasnya menjelaskan bahwa rumahnya sedang direkonstruksi. Ada penambahan kamar di belakang khusus untuk bibiku. Bagiku, itu terdengar cukup mengejutkan. Setahuku, nenekku selalu saja mengeluhkan soal uang untuk pengobatan dirinya yang selalu saja ia akui tak cukup. Tapi kali ini, ia malah rela mengeluarkan uang berjuta-juta hanya untuk mengubah bentuk rumahnya. Itu terdengar mencurigakan bagiku. Aku pun dengan hati-hati menanyai apakah ada drama baru antara bibiku dan suaminya.

Aku sangat lega ketika nenekku menjawab tidak. Setelah beberapa bulan, tak terdengar lagi drama dari mereka. Tapi alasan nenekku mengubah bentuk rumahnya ternyata membuatku tersenyum. Katanya, ia tak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Ia takut kalau bibiku kembali diusir, ia tak memiliki kamar. Untuk itu, ia menyediakan kamar khusus untuknya. Tentu saja itu membuat iri beberapa anaknya yang lain, termasuk ibuku. Tapi, sebagai cucu, dan keponakan dari bibiku, aku senang mendengarkannya. Sayangnya, penjelasan nenekku selanjutnya malah membuat aku naik darah.

Nenekku kaget luar biasa ketika aku yang biasanya berbicara sangat lembut kepadanya tiba-tiba saja menjadi brutal. Ia bahkan sempat terdiam beberapa saat seolah bertanya-tanya apakah benar aku yang sedang berbicara di seberang telepon. Sementara itu, aku yang masih terbawa emosi terus saja berbicara dengan nada yang tak bersahabat. Dan, nenekku terdiam ketika aku mencecar, “Apa nenek tidak malu mendengar omongan nenek sendiri?”

Aku marah mendengar penjelasan nenek. Ia adalah seorang ibu. Ia mencintai anak-anaknya selayaknya ibu yang baik, tentu saja. Sayangnya, seperti kebanyakan orang tua lainnya, ada hal-hal yang salah yang mereka yakini benar dan pasrah dengan hal itu. Salah satunya adalah ketika ia mengatakan bahwa bibiku beruntung karena suaminya masih menginginkannya kembali. Menurutku ini salah. Dari sisi mana pun melihatnya, ini sama salahnya. Bagaimana mungkin nenekku, ibu kandung dari bibiku, berbicara seperti itu tentang anaknya sendiri? Ini menyakitkan bagiku karena itu membuatku sadar betapa menyedihkannya hidup bibiku.

Bayangkan, siapa yang ingin menikah dengan pria yang tak ia sukai, lalu di hari ia melahirkan anak pertamanya, ia babak belur dihajar oleh suaminya seolah sakit atas melahirkan itu tidak cukup menyakitkan bagi bibiku. Hingga kakak tertuanya yang biasanya terlihat lembut langsung marah seperti orang gila, saking sedihnya melihat penderitaan adiknya. Masih belum berakhir, penyiksaan itu bertambah buruk ketika mereka memilih pindah rumah menjauh dari keluarga besarku, membuat ceritanya menjadi rahasia untuk beberapa tahun. Dan beberapa tahun kemudian, nenekku tiba-tiba saja berujar, “Untung suaminya sekarang tak pernah main tangan.” Pantaskah seorang ibu berucap seperti itu tentang kehidupan menyedihkan putrinya?

Aku sama kecewanya ketika sepupuku, anak sulung bibiku, menelponku. Ketika Ibunya baru saja diusir dari rumah oleh Ayahnya, Ia menceritakan padaku sambil menangis bahwa mereka dalam proses cerai. Bodohnya ia, ia malah memintaku berdoa agar itu tak pernah terjadi. Sebagai orang luar, tentu saja aku memilih diam dan hanya bersuara sedikit saja. Tapi di dalam lubuk hatiku, aku mengutuk kebodohan sepupuku. Sebagai seorang perempuan, aku merasa ia telah terdoktrin racun yang sama dengan apa yang sudah ditelan oleh nenekku. Ia mengira, ibunya akan lebih sengsara lagi kalau ia tak hidup dengan ayahnya. Seolah tahun-tahun yang menyiksa itu tidak cukup bagi Ibunya.

Di saat aku mencerca nenekku dengan pertanyaan retoris yang tajam, nenekku memotong pembicaraanku dengan persetujuan. Ia mengaku bahwa ia setuju dengan pendapatku. Ia juga bilang bahwa tentu saja sebagai seorang ibu, ia menginginkan anaknya bahagia. Tapi, ia hanya bisa pasrah ketika bibiku mengatakan padanya bahwa ia lebih baik makan hati untuk anak bungsunya daripada harus hidup terlantar seperti ketika ia diusir saat itu. Ia rela kembali hidup dengan pria yang tak ia cintai. Ia membenci suaminya hingga tak ada foto mereka berdua tersimpan di mana-mana. Semuanya telah ia sobek, bakar, atau buang. Tapi, ia masih saja memilih hidup dengannya.

Sebagai seorang laki-laki, jujur saja itu membuat aku sedih. Ia menghabiskan lebih banyak umurnya menjadi istri yang tertekan dibandingkan seorang anak dan remaja yang bebas dan bahagia. Dan, ketika ada kesempatan untuk becerai, untuk bebas, ia malah memilih mundur dan kembali ke rumah yang penuh tekanan itu. Ia takut untuk maju karena ada bayangan-bayangan negatif yang menghantuinya.  Tentang hidup sebagai janda dengan anak yang masih kecil, tentang dirinya yang tak memiliki pekerjaan, dan banyak hal lagi. Itu membuatku semakin sedih.

Aku kira, ketakutan-ketakutan itu hanyalah nomor kesekian dari daftarnya. Karena aku yakin ia tak jauh berbeda dengan nenekku, yang walaupun sama-sama perempuan, tetapi menganggap rendah diri mereka sendiri daripada laki-laki. Dengan disambutnya tangan suaminya ketika ia diajak pulang, ia berarti telah berujar hal yang sama dengan nenekku bahwa ia masih beruntung ketika suaminya masih menginginkannya. Itu membuatku bertanya-tanya, sebegitu rendahkah harga seorang perempuan dibandingkan laki-laki?

Kasus yang hampir sama terjadi pada salah satu temanku. Ia yang memilih bertahan dengan pacarnya walau terus mendapat kekerasan, juga mendapat penghakiman buruk oleh teman-teman sesama perempuannya. Banyak yang menghubungkan kekerasan itu dengan keperawannya yang membuatnya tidak percaya diri. Menyedihkan, memang.

Aku jadi mulai positif sekarang bahwa entah apa itu, ada sesuatu yang salah di negeri ini. Apakah itu pendidikan atau budaya, sesuatu harus diperbaiki. Karena sebagai seorang laki-laki, disela-sela rasa syukur atas keberuntunganku itu, aku merasa kasihan kepada perempuan-perempuan ini. Tak hanya mereka tak sadar telah menjadi korban, tetapi mereka malah memandang rendah diri mereka sendiri. Lebih buruk lagi, lucu rasanya melihat perempuan menilai diri mereka sendiri dalam sudut pandang laki-laki yang jelas-jelas merusak dan hanya memandang mereka satu tingkat di bawah mereka, alih-alih memilih merangkul dan bekerja sama untuk hidup yang lebih baik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s