Blog

Harga seorang perempuan

Selalu ada drama di rumah bibiku. Terakhir kali aku mendengar kabar, ia diusir oleh suaminya dan harus menginap di rumah nenekku yang jumlah kamarnya terbatas. Ia dan anak bungsunya terpaksa tidur di ruang tamu selama beberapa minggu. Dalam artian lain, selama beberapa minggu itu, mereka hidup terlantar. Semua itu berakhir ketika pamanku kembali untuk menjemputnya pulang. Tapi, tentu saja itu bukan hal baru bagi pasangan suami-istri beranak tiga itu, atau pun bagi kami keluarganya yang terus menjadi saksi.

Ekspektasi yang membebani

Hal pertama yang diperhatikan oleh manusia setiap kali seorang bayi dilahirkan adalah jenis kelamin. Itu sangat penting hingga banyak orang tua yang menamai anak mereka berdasarkan hal itu. Nama, selain adalah identitas utama yang akan digunakan seorang manusia hingga akhir hayat atau sampai mereka menggantikannya, juga adalah sebuah doa dan harapan orang tua kepada anaknya. Tak heran kalau orang tua berlomba-lomba menamai anak mereka dengan kata-kata yang penuh makna dan terdengar indah.

Tak ada surga untuk para homoseksual

Islam yang berarti keselamatan, adalah agama yang menempatkan diri sebagai penebar kedamaian di dunia. Setidaknya, begitulah para pemeluk Islam meyakininya.  Walaupun di dalam Islam diyakini bahwa setiap sesuatunya telah diatur oleh Allah S.W.T., manusia tetap punya kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri berdasarkan pilihan dan apa yang ia lakukan selama hidupnya. Mungkin itu terdengar tak masuk akal bagi yang bukan pemeluknya, tetapi itulah keistimewaan Islam yang diyakini pemeluknya.

Bagian 1 : Rumah Baru

Ada kedewasaan yang terpancar dari senyuman bocah itu. Bocah yang berdiri tegap, melengkungkan bibirnya seraya menatap sebuah mobil putih yang melaju perlahan menjauhinya. Di buntut mobil itu, asap mengebul seolah sedang kentut.

Rihanna. One lucky bitch, yes she is.

Gila. Inilah kenapa aku benci dan cinta pada twitter. Cuitan yang hanya terdiri dari 140 karakter itu bisa membuat pikiranku menjadi berantai-rantai penuh cabang. Dari Rihanna yang beruntung, tanpa aku sadari aku sudah memikirkan tentang sistem pendidikan yang jelek di negara ini. Aku tak tahu, apakah aku harus berterima kasih kepada twitter, para warga-warga yang menikmatinya, atau Tuhan atas kemampuan  manusia untuk berpikir. Entahlah, aku bingung. Semoga saja Tuhan itu ada.  

Tulang Kering

Dan itu berarti, betapa beruntungnya aku terlahir sebagai laki-laki yang mendapatkan banyak sekali keberuntungan. Hanya saja jangan sampai permbicaraan ini sampai ke orientasi seksual, or I’m F’d up.