Blog

Partikel Bintang

“Tak ada yang aneh di dunia ini. Yang ada, hanya sesuatu yang tak begitu dimengerti. Dan dalam kasus ini, aku kurang begitu paham apa nikmatnya menatap langit. Maksudku, aku tahu, bintang itu indah. Tapi, aku juga tak mungkin rela sengaja keluar berdingin-dingin ria, apalagi dengan celana selutut, hanya demi bertukar sapa dengan mereka yang jaraknya sesurga itu.”

Pseudo-sapiens

Malam ini cerah, secerah siang yang ditimpa gerhana. Jalanan yang aku tempuh terasa seperti magnet, menarik-narikku untuk berbaring di atasnya. Langkahku gontai, mengikuti tempo angin yang menggumamkan lagu. Nyanyian bunga sedap malam. Bayanganku menari.

Semesta Mimpi

Bibirnya tersenyum, tetapi matanya menangis. Dengan kedua kaki yang terlipat hingga menekan paha, atau tangan yang terikat memeluk lututnya, ia menjadi raja tanpa rakyat jelata di singgasana sederhananya di sudut ruangan. Ia punya kuasa atas emosinya, namun ia juga adil akan semua pilihannya. Keadilan yang berlebihan hanya akan menciptakan keanehan tanpa keadilan sama sekali. Paradoks.

Harga seorang perempuan

Selalu ada drama di rumah bibiku. Terakhir kali aku mendengar kabar, ia diusir oleh suaminya dan harus menginap di rumah nenekku yang jumlah kamarnya terbatas. Ia dan anak bungsunya terpaksa tidur di ruang tamu selama beberapa minggu. Dalam artian lain, selama beberapa minggu itu, mereka hidup terlantar. Semua itu berakhir ketika pamanku kembali untuk menjemputnya pulang. Tapi, tentu saja itu bukan hal baru bagi pasangan suami-istri beranak tiga itu, atau pun bagi kami keluarganya yang terus menjadi saksi.