Blog

Layang-Layang Putus

Layang-layang putus, kalah atas aduan sang pemilik di ujung benang. Ia yang mulanya gagah, menantang langit dari balik awan; tegar dengan kerangka buluhnya yang sempurna, menantang setiap embusan angin yang menerpanya; kini hanya bisa pasrah, seperti bangkai ikan yang hanyut dalam aliran sungai. Gengsinya telah meninggalkannya, tersangkut di benang lawan yang masih menari menyambut senja.

Birthday Boy in His Birthday Suit

Ketakutan yang tak beralasan, kata orang-orang. Aku harusnya tak setuju. Rasionalitasku berkata demikian. Tapi itu sesuatu yang tak bisa diterima oleh budaya, ketidaksetujuanku itu. Aku harus diam. Aku diajarkan untuk diam. Aku lebih baik diam daripada harus membantah. Tak ada penjelasan pasti. Bahkan untuk bertanya pun aku tak bisa.

Touché

Tawa kami renyah, menghiasi obrolan kami yang garing. Berbagai hal yang rasanya sepele kami murtadkan menjadi luar biasa. Di mata kami, bahkan seorang pengemis bisa menjadi raja. Lalu gerimis turun. Ia tersenyum seraya menunduk ke tanah. Tanah pun butuh istirahat, ujarnya.

Drops

Is there anything more romantic than being alone apreciating every drop of the rain? The buzz that you hear, the thunder that screams at you, the sky that shy and the swallows that fly.

Tunas Bangsa, pohon bangsa masa depan yang lebih baik?

Anak-anak adalah penghuni baru di dunia ini. Layaknya seorang turis, ada banyak pertanyaan yang akan mereka ajukan mengenai apa yang ada di sekelilingnya. Tidak jarang, karena ketidaktahuan mereka, pertanyaan-pertanyaan tersebut malah membuat orang-orang dewasa merasa tak nyaman. Lalu tiba-tiba saja mereka ditegur tanpa penjelasan dan dilarang untuk mengajukan pertanyaan yang sama. Kata mereka itu adalah tabu.